/* Template shelterhati.blogspot.com */ :: Shelter hati ::

:: Shelter hati ::

( sejenak menyandarkan hati )

Saturday, December 27, 2008

KENAPA HARUS MENIKAH

KENAPA HARUS MENIKAH

Berikut beberapa alasan mengapa harus menikah, semoga bisa memotivasi kaum muslimin untuk memeriahkan dunia dengan nikah.

1. Melengkapi agamanya
"Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya.
Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi."
(HR. Thabrani dan Hakim).

2. Menjaga kehormatan diri
"Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya."
(HSR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

3. Senda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia
"Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang."
(Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 245; Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 309).

Hidup berkeluarga merupakan ladang meraih pahala
4. Bersetubuh dengan istri termasuk sedekah
Pernah ada beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka."
Beliau bersabda, "Bukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah; (pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahmid terdapat sedekah); memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun sedekah."
Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, kok bisa salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?" Beliau menjawab, "Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?" (Mereka menjawab, "Ya, tentu." Beliau bersabda,)
"Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala." (Beliau kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang beliau padankan masing-masingnya dengan sebuah sedekah, lalu beliau bersabda, "Semua itu bisa digantikan cukup dengan shalat dua raka'at Dhuha..") (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 125).

5. Adanya saling nasehat-menasehati

6. Bisa mendakwahi orang yang dicintai

7. Pahala memberi contoh yang baik
"Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun.
Dan barang siapa yang pertama memberi contoh perilaku jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun."
(HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Orang yang pertama kali melakukan kebaikan atau kejahatan.)
Bagaimana menurut Anda bila ada seorang kepala keluarga yang memberi contoh perbuatan yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan anak-anaknya? Demikian juga sebaliknya bila seorang kepala keluarga memberi contoh yang jelek bagi keluarganya?

8. Seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada istrinya dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama.
Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah.
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: "Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu."
(HR Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud., ia berkata:
Rasulullah SAW bersabda: "Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraan di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk membantu teman seperjuangan di jalan Allah."
(HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Seorang suami lebih utama menafkahkan hartanya kepada keluarganya daripada kepada yang lain karena beberapa alasan, diantaranya adalah nafkahnya kepada keluarganya adalah kewajiban dia, dan nafkah itu akan menimbulkan kecintaan kepadanya.

Muawiyah bin Haidah RA., pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: 'Wahai Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara kami?"
Beliau menjawab dengan bersabda, "Berilah makan bila kamu makan dan berilah pakaian bila kamu berpakaian. Janganlah kamu menjelekkan wajahnya, janganlah kamu memukulnya, dan janganlah kamu memisahkannya kecuali di dalam rumah. Bagaimana kamu akan berbuat begitu terhadapnya, sementara sebagian dari kamu telah bergaul dengan mereka, kecuali kalau hal itu telah dihalalkan terhadap mereka."
(Adab Az Zifaf Syaikh Albani hal 249).

Dari Sa'ad bin Abi Waqqash RA., dalam hadits yang panjang yang kami tulis pada bab niat, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadanya:
"Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridhaan Allah, niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu."
(HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga)

Dari Abdullah bin Amr bin 'Ash ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
"Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyia-nyiakan orang yang harus diberi belanja."
(HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah
"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya. "
(Saba': 39).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda: "Setiap pagi ada dua malaikat yang datang kepada seseorang, yang satu berdoa: "Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya." Dan yang lain berdoa: "Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir."
(HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

9.. Seorang pria yang menikahi janda yang mempunyai anak, berarti ikut memelihara anak yatim

Janji Allah berupa pertolongan- Nya bagi mereka yang menikah.
1. Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nur: 32)
2. Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya.
(HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

Kontributor : Chandraleka
From : Forum Islam Menjawab [Neighbour Milist]

--- End forwarded message ---

Saturday, November 15, 2008

APAKAH SAYA MENIKAH DENGAN ORANG YANG TEPAT

Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, "bagaimana saya tahu kalo saya menikah dengan orang yang tepat?"
Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya, jadi saya menjawab "Ya.. tergantung. Apakah pria disebelah anda itu suami anda?" Dengan sangat serius dia balik bertanya "Bagaimana anda tahu?!" "Biarkan saya jawab pertanyaan yang sangat membebani ini."

Inilah jawabannya!


SETIAP ikatan memiliki siklus.Pada saat-saat awal sebuah hubungan, anda merasakan jatuh cinta dengan pasangan anda.Telpon darinya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang bersemangat, begitu menyenangkan. Jatuh cinta kepada pasangan bukanlah hal yang sulit.Jatuh cinta merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu spontan. Ngga perlu berbuat apapun Makanya dikatakan "jatuh" cinta!

Orang yang sedang kasmaran kadang mengatakan "aku mabuk cinta" Bayangkan ekspresi tersebut! Seakan-akan anda sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba sesuatu datang dan terjadi begitu saja pada anda. Jatuh cinta itu mudah. Sesuatu yang pasif dan spontan. Tapi?Setelah beberapa tahun perkawinan, gempita cinta itu pun akan pudar.. perubahan ini merupakan siklus alamiah dan terjadi pada SEMUA ikatan.

Perlahan tapi pasti.. telpon darinya menjadi hal yang merepotkan, belaiannya ngga selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang bersemangat bukannya jadi hal yang manis, tapi malah nambahin penat yang ada.. Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu, namun bila anda memikirkan tentang rumah tangga anda, anda akan mendapati perbedaaan yang dramatis antara tahap awal ikatan,pada saat anda jatuh cinta, dengan kepenatan-kepenatan bahkan kemarahan pada tahapan-tahapan selanjutnya.

Dan pada situasi inilah pertanyaan "Did I marry the right person?" mulai muncul, baik dari anda atau dari pasangan anda, atau dari keduanya.. Nah Lho! Dan ketika anda maupun pasangan anda mencoba merefleksikan eforia cinta yang pernah terjadi.. anda mungkin mulai berhasrat menyelami eforia-eforia cinta itu dengan orang lain. Dan ketika pernikahan itu akhirnya kandas? Masing-masing sibuk menyalahkan pasangannya atas ketidakbahagiaan itu dan mencari pelampiasan diluar. Berbagai macam cara, bentuk dan ukuran untuk pelampiasan ini. Mengingkari kesetiaan merupakan hal yang paling jelas. Sebagian orang memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaannya, hobinya, temanannya, nonton TVsampe TVnya bosen ditonton, ataupun hal- hal yang menyolok lainnya. Tapi tau ngga?! Bahwa jawaban atas dilema ini ngga ada diluar, justru jawaban ini hanya ada di dalam pernikahan itu sendiri.

Selingkuh?? Ya mungkin itu jawabannya Saya ngga mengatakan kalo anda ngga boleh ataupun ngga bisa selingkuh, Anda bisa! Bisa saja ataupun boleh saja anda selingkuh, dan pada saat itu anda akan merasa lebih baik. Tapi itu bersifat temporer, dan setelah beberapa tahun anda akan mengalami kondisi yang sama (seperti sebelumnya pada perkawinan anda).

Perselingkuhan yang dilakukan sama dengan proses berpacaran yang pernah anda lakukan dengan pasangan anda, penuh gairah. Tetapi, seandainya proses itu dilanjutkan, maka anda akan mendapati keadaan yang sama dengan pernikahan anda sekarang.Itu adalah siklus...Karena.. (pahamilah dengan seksama hal ini) ..


KUNCI SUKSES PERNIKAHAN BUKANLAH MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT. NAMUN KUNCINYA ADALAH BAGAIMANA BELAJAR MENCINTAI ORANG YANG ANDA TEMUKAN DAN TERUS MENERUS..!



Cinta bukanlah hal yang PASIF ataupun pengalaman yang spontan Cinta NGGA AKAN PERNAH begitu saja terjadi! Kita ngga akan bisa MENEMUKAN cinta yang selamanya. Kita harus MENGUSAHAKANNYA dari hari ke hari. Benar juga ungkapan "diperbudak cinta" Karena cinta itu BUTUH waktu, usaha, dan energi. Dan yang paling penting, cinta itu butuh sikap BIJAK Kita harus tahu benar APA YANG HARUS DILAKUKAN agar rumah tangga berjalan dengan baik . Jangan membuat kesalahan untuk hal yang satu ini. Cinta bukanlah MISTERI Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan (dengan ataupun tanpa pasangan anda) agar rumah tangga berjalan lancar.. Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu fisika (seperti gaya Grafitasi), dalam suatu ikatan rumah tangga juga ada hukumnya. Sama halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat membuat tubuh kita lebih kuat, beberapa kebiasaan dalam hubungan rumah tangga juga DAPAT membuat rumah tangga itu lebih kuat. Ini merupakan reaksi sebab akibat. Jika kita tahu dan mau menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita bisa "MEMBUAT" cinta bukan "JATUH".

Karena cinta dalam pernikahan sesungguhnya merupakan sebuah DECISION, dan bukan cuma PERASAAN..!
Jika ia sebuah cinta..... ia tidak mendengar... namun senantiasa bergetar....
Jika ia sebuah cinta.....ia tidak buta.. namun senantiasa melihat dan merasa..
Jika ia sebuah cinta.....ia tidak menyiksa..namun senantiasa menguji..
Jika ia sebuah cinta..... ia tidak memaksa..namun senantiasa berusaha..
Jika ia sebuah cinta.....ia tidak cantik..namun senantiasa menarik...
Jika ia sebuah cinta.....ia tidak datang dengan kata-kata..namun senantiasa menghampiri dengan hati..
Jika ia sebuah cinta.....ia tidak terucap dengan kata.. namun senantiasa hadir dengan sinar mata..
Jika ia sebuah cinta......ia tidak hanya berjanji..namun senantiasa mencoba memenangi..
Jika ia sebuah cinta.....ia mungkin tidak suci.. namun senantiasa tulus..
Jika ia sebuah cinta.......ia tidak hadir karena permintaan...namun hadir karena ketentuan...
Jika ia sebuah cinta.....ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan...namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan..



Cintailah pasangan anda, seperti anda ingin dicintai olehnya. Setialah pada pasangan anda, seperti anda ingin mendapatkan kesetiaannya._,_.___



(Dari milis sebelah )
http://yaufaniadam.multiply.com/journal/item/26/APAKAH_SAYA_MENIKAH_DENGAN_ORANG_YANG_TEPAT

Saturday, September 20, 2008

Doa yang kupanjatkan


Doa yang kupanjatkan ketika aku masih gadis
"Ya Allah beri aku calon suami yang baik, yang sholeh. Beri aku suami yang dapat kujadikan imam dalam keluargaku."

Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah
"Ya Allah beri aku anak yang sholeh dan sholehah, agar mereka dapat mendoakanku ketika nanti aku mati dan menjadi salah satu amalanku yang tidak pernah putus."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku lahir
"Ya Allah beri aku kesempatan menyekolahkan mereka di sekolah Islami yang baik meskipun mahal, beri aku rizki untuk itu ya Allah...."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah mulai sekolah
"Ya Allah..... jadikan dia murid yang baik sehingga dia dapat bermoral Islami, agar dia bisa khatam Al Quran pada usia muda."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah beranjak remaja
"Ya Allah jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yang mengkhawatirkanku. Ya Allah aku tidak ingin ia mengumbar auratnya, karena dia ibarat buah yang sedang ranum."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku menjadi dewasa
"Ya Allah entengkan jodohnya, berilah jodoh yang sholeh pada mereka,
yang bibit, bebet, bobotnya baik dan sesuai setara dengan keluarga kami."

Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah
"Ya Allah jangan kau putuskan tali ibu & anak ini, aku takut kehilangan perhatiannya dan takut kehilangan dia karena dia akan ikut suaminya."

Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan melahirkan
"Ya Allah mudah-mudahan cucuku lahir dengan selamat.
Aku inginkan nama pemberianku pada cucuku, karena aku ingin memanjangkan teritoria wibawaku sebagi ibu dari ibunya cucuku."

Ketika kupanjatkan doa-doa itu, aku membayangkan Allah tersenyum dan berkata..... .

"Engkau ingin suami yang baik dan sholeh
sudahkah engkau sendiri baik dan sholehah?
Engkau ingin suamimu jadi imam,
akankah engkau jadi makmum yang baik?"

"Engkau ingin anak yang sholehah,
sudahkah itu ada padamu dan pada suamimu.
Jangan egois begitu......
masak engkau ingin anak yang sholehah
hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu. ...
tentu mereka menjadi sholehah utama karena-Ku,
karena aturan yang mereka ikuti haruslah aturan-Ku."

"Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah Islam,
karena apa?...... prestige? ...... atau....engkau tidak mau direpotkan dengan mendidik Islam padanya?
Engkau juga harus belajar, Engkau juga harus bermoral Islami,
Engkau juga harus membaca Al Quran dan berusaha mengkhatamkannya. "

"Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanya
dengan mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup aurat?
Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan
umat-Ku."

"Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon menantumu,
seolah engkau tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam Al Quran-Ku.
Percayalah kalau anakmu dari bibit, bebet, bobot yang baik maka yang sepadanlah yang dia akan dapatkan."

"Engkau hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anakmu.
Aku yang memiliki dia saja, Aku bebaskan dia dengan kehendaknya.
Aku tetap mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku, bahkan ketika dia melupakan-Ku. Aku tetap mencintainya. "

"Anakmu adalah amanahmu, cucumu adalah amanah dari anakmu,
berilah kebebasan untuk melepaskan busur anak panahnya sendiri yang menjadi amanahnya."


Lantas...... aku malu...... dengan imajinasiku sendiri....
aku malu......aku malu akan tuntutanku.. .....

Maafkan aku ya Allah......
lantas aku malu dengan imajinasiku sendiri.



(Ratih Sanggarwati)

*Hikss

Jodoh, tanggung jawab siapa ?

Betapa banyak lajang yang merasa sendirian saat mencari pasangan hidupnya. Apa benar memang harus ia sendirian yang bertanggung jawab mencari jodoh untuk dirinya sendiri? Tidakkah ada pihak lain yang ikut bertanggung jawab?

PERAN ORANGTUA
===============
Terkait dengan soal jodoh, yang pertama harus dipahami adalah jodoh, sebagaimana rezeki dan maut, adalah wewenang Allah. Tiada kuasa kita untuk menentukan hal ini. Tapi tentu saja harus ada usaha manusia untuk mendapatkan hal tersebut.
Dalam hal tanggung jawab, tuntutan untuk menikah itu adalah tanggung jawab masing-masing pribadi. Tapi upaya untuk menikah itu tanggung jaawb bersama.
Orang tua bukan hanya berkewajiban memberikan nama baik untuk anak-anaknya, tapi juga bagaimana mengajarkan adab atau perilaku yang baik. Juga kewajiban menikahkan anak itu sehingga dia memiliki satu keluarga. Mengenai bentuk upaya, tentu berbeda-beda orang tua satu dengan yang lain.
Mengikuti perkembangan zaman dan pemikiran, kebanyakan orangtua akhirnya menyerahkan pencarian jodoh ini pada anak-anaknya. Namun, di sini bukan berarti orang tua lepas tanggung jawab sama sekali. Dalam hal ini, orang tua tetap punya kewajiban melihat bagaimana akhlak calon yang diajukan si anak terutama masalah akidah.

PERAN ORANG SEKITAR
===================
Selain orang tua, guru ngaji pada siapa si lajang menimba ilmu agama juga berperan dalam mencarikan jodoh buat si lajang walau sebatas kemampuan yang dimilikinya.
Masyarakat pun sebenarnya bertanggungjawab juga dalam mencarikan jodoh buat para lajang. Tentu usaha ini harus dilakukan dengan cara-cara yang baik dan tak terkesan mencampuri urusan orang lain.

Keputusan akhir
============
Setelah semua usaha yang dilakukan oleh orang-orang di sekeliling si lajang untuk mencarikan jodoh, keputusan akhir kini berpulang kepada si lajang lagi. Upaya itu memang upaya bersama, tetapi kalau keputusan tetaplah keputusan masing-masing pribadi.

Perang orangtua, guru ngaji, dan yang lainnya adalah perantara saja. Tidak mutlak harus jadi karena yang berperan kemudian adalah takdir Allah.

Tapi sebagai catatan penting, para lajang harus meningkatkan keberanian untuk menikah. Kesiapan sempurna itu tidak ada, tetap harus didorong dengan keberanian.
Pun dalam soal menetapkan kriteria calon pendamping hidup, ada perbedaan antara keinginan seseorang untuk mencari istri/suami dan mencari ibu/ayah bagi anak-anaknya. Orang-orang yang mencari istri atau suami baginya biasanya lebih sulit menemukan jodoh dibandingkan dengan mereka yang berpikir mencari ibu atau ayah bagi anak-anaknya. Sebab, untuk mencari suami/istri lebih banyak sisi subjektif ketimbang objektifnya. Sementara saat kita berpikir mencari ibu/ayah bagi anak-anak, visinya lain lagi. Ada baiknya, setiap lajang terus memperbaiki diri dan niat, untuk memudahkan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya menemukan jodoh untuknya.

Sumber : Majalah Ummi No.12/XVII April 2006

Monday, July 28, 2008

Teori 1000




Teori 1000
dalam pencarian jodoh
jika mengutamakan harta -> maka nilainya 0
jika mengutamakan keturunan -> maka nilainya 0
jika mengutamakan kecantikan -> maka nilainya 0
jika mengutamakan agama -> maka nilainya 1

Ya, jikalau hanya agamanya yang bagus, maka selamat dengan nilai 1



Adapun setelah agama terpenuhi,
lalu wajahnya cantik/tampan, nilai menjadi 10
lalu keturunannya bagus dan subur, nilai menjadi 100
lalu hartanya halal berlimpah, nilai menjadi 1000 ...


(inspirator : Buya Hamka)

Sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna. Kecantikan atau ketampanan bisa habis termakan usia, atau tergores luka, atau terbakar, dan resiko2 lain yang tidak menyenangkan. Garis keturunan tidak menjadi jaminan, orang tualah yang membimbingnya menjadi muslim yang taat dan terhormat atau tidak. Juga harta bisa lenyap seketika oleh kebangkrutan, phk, dan resiko kehidupan lainnya. Jika kita utamakan agamanya maka tiang rumah tangga bisa kokoh dilandasi iman. Kekurangan pasangan bisa menjadi ladang 'amal bagi kita.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya, kamu akan selamat. (HR. Bukhari Muslim)

Monday, July 07, 2008

Siapa Penghuni Neraka yang Paling Banyak? (wanita)

Konon, penghuni neraka yang paling banyak adalah wanita.?, saya pernah
membaca sebuah buku kecil berjudul 'Sebab-sebab Keselamatan dan
Kebinasaan Wanita' ditulis oleh Khalid Ramadhan Hasan.

Dari buku tersebut, secara garis besar faktor utama penyebab celakanya
wanita adalah:
- suka mempertontonkan perhiasan dan keindahan diri (tabarruj),
- durhaka pada suami (nusyuz),
- dan perilaku yg buruk.
Lebih lengkapnya, baca aja sendiri yak bukunya :)

Sungguh, telah diberikan kemudahan bagi kaum wanita untuk MEMILIH
pintu surga yang ia sukai.
"Apabila seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan,
menjaga kehormatannya, dan taat pada suaminya, maka berhak masuk surga
lewat pintu mana pun yang ia sukai" [Hadits Nabi SAW]

Namun .. pernah lah juga kita baca sabda Rasul :
"Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya
adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam Neraka maka
aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita."(HR. Bukhari dan
Muslim)
Aaah.. Wanita diberi kemudahan tetapi justru wanita yang paling banyak
di neraka?

Wanita memang sungguh rentan terhadap banyak godaan dunia.. godaan
tabbaruj (buka aurat), godaan kufur nikmat, godaan bergunjing, godaan
nafsu harta, dan godaan lainnya ..
So, untuk teman-teman muslimah, mari kita saling mengingatkan utk
istiqomah.. terutama ingatkanlah diri saya ini yg msh sangat dhoif,
naif, sangat perlu diingatkan.
Mengenai jodoh yang tak kunjung datang, lebih baik terlambat tetapi
selamat (bisa membawa kita ke surga) daripada buru-buru tetapi dapat
jodoh yang membuat kita durhaka/kufur nikmat.. memang ya, segala
sesuatu akan indah pada waktunya, Allah SWT lebih tahu yang terbaik
untuk kita.

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada
kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah
kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau-lah
Maha Pemberi (karunia)..

Thursday, June 19, 2008

DO'A dalam sunyi ...




"Rabbi laa tadzarnii far daawwa an-ta khoirul waa ritsiin"

"Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidupku seorang diri, dan Engkaulah pewaris yang paling baik."
(QS. Al-Anbiyaa', 89).







"Rabbana hablana min azwaajina wadzurriyyaatinaa, qurrata a'yun waj'alna lil-muttaqiina Imaama"


"Ya Robbana, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang (hati) kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa) "
(QS. Al Furqon, 74)

Monday, June 16, 2008

pilih Mencintai atau Dicintai ?

Ada pepatah mengatakan,
seorang wanita bijak akan memilih lelaki yang mencintai dirinya (wanita itu)
daripada lelaki yang dicintainya.

Ada juga riwayat bercerita,
Semua orang menyenangi wanita, tetapi mereka berkata, "Mencintai wanita adalah
awal sebuah derita.
"Bukan wanita yang membuat derita, tetapi mencintai wanita yang tidak
mencintaimulah yang akan menciptakan derita bagimu."

Dalam Islam,
Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah
perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Alloh
Subhanallohu wa Ta'ala di dalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kepada lawan
jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya.

Namun dalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkan manakala
ikatan pernikahan di antara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanya ikatan
pernikahan itu, maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta, melainkan NAFSU SYAHWAT
dan KETERTARIKAN SESAAT.
Sebagaimana Firman Alloh Subhanallohu wa Ta'ala, yang artinya: "Dan diantara
tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari
jenismu sendiri , supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan
dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir" (QS. Ar Rum: 21).

Pernikahan seharusnya memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud
Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Alloh. Proses dan caranya harus
Billah, sesuai dengan ketentuan dari Alloh.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan
calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau
tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Alloh.

"Sesungguhnya Alloh pada Hari Kiamat berseru, `Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku lindungi mereka dalam lindungan-Ku, pada hari yang tidak ada perlindungan, kecuali per-lindungan-Ku."
(HR. Muslim)

Dari Mu'adz bin Jabalzia berkata, "Aku mendengar Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, Alloh Tabaraka wa Ta'ala berfirman,
"Wajib
untuk mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku dan yang saling berkunjung karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku."
(HR.
Ahmad).

Jadi, tidak penting apakah memilih mencintai atau dicintai,
karena yang lebih penting adalah berusaha saling mencintai karena Alloh SWT
dalam ikatan pernikahan yang suci.
Makanya, dalam Ta'aruf sebisa mungkin jangan dulu terjebak rasa cinta yang tidak
jelas .. ^_^

Thursday, June 12, 2008

TUJUAN PERKAWINAN DALAM ISLAM

TUJUAN PERKAWINAN DALAM ISLAM

1. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi

Di tulisan terdahulu [bagian kedua] kami sebutkan bahwa perkawinan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang perkawinan), bukan dengan cara yang amat kotor menjijikan seperti cara-cara orang sekarang ini dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.

2. Untuk Membentengi Ahlak Yang Luhur

Sasaran utama dari disyari'atkannya perkawinan dalam Islam di antaranya ialah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat manusia yang luhur. Islam memandang perkawinan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efefktif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

3. Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami

Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq (perceraian), jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah dalam ayat berikut :

"Artinya : Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang dhalim". (Al-Baqarah : 229).

Yakni keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syari'at Allah. Dan dibenarkan rujuk (kembali nikah lagi) bila keduanya sanggup menegakkan batas-batas Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah lanjutan ayat di atas :

"Artinya : Kemudian jika si suami menthalaqnya (sesudah thalaq yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dikawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami yang pertama dan istri) untuk kawin kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkannya kepada kaum yang (mau) mengetahui ". (Al-Baqarah : 230).

Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri melaksanakan syari'at Islam dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari'at Islam adalah WAJIB.

4. Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah

Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan dan amal shalih di samping ibadat dan amal-amal shalih yang lain, sampai-sampai menyetubuhi istri-pun termasuk ibadah (sedekah).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah !. Mendengar sabda Rasulullah para shahabat keheranan dan bertanya : "Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?" Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab : "Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? Jawab para shahabat :"Ya, benar". Beliau bersabda lagi : "Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala !". (Hadits Shahih Riwayat Muslim 3:82, Ahmad 5:1167-168 dan Nasa'i dengan sanad yang Shahih).


5. Untuk Mencari Keturunan Yang Shalih

Tujuan perkawinan di antaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam, Allah berfirman :

"Artinya : Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?". (An-Nahl : 72).

Dan yang terpenting lagi dalam perkawinan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah.

Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam yang benar. Kita sebutkan demikian karena banyak "Lembaga Pendidikan Islam", tetapi isi dan caranya tidak Islami. Sehingga banyak kita lihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami, diakibatkan karena pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar.

Tentang tujuan perkawinan dalam Islam, Islam juga memandang bahwa pembentukan keluarga itu sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.

Wednesday, June 11, 2008

Perbedaan Ta'aruf Dan Pacaran

Kapan dimulai
- T : ketika sudah berniat menikah, dan ada calon yang bersedia untuk proses ta'aruf.
- P : ketika rasa suka/ketertarikan disambut calon pacar dan resmi "jadian", dengan/tanpa niat menikah.

Waktu
- T : sesuai dengan adab bertamu.
- P : pagi boleh, siang oke, sore ayo, malam bisa, dini hari klo ngga ada yang komplain juga ngga apa-apa.

Tempat pertemuan
- T : di rumah sang calon, balai pertemuan, musholla, masjid.
- P : di rumah pacar, mall, cafe, diskotik, tempat wisata, kendaraan umum & pribadi, pabrik, kantor.

Frekuensi pertemuan
- T : lebih sedikit lebih baik karena menghindari zina hati.
- P : lazimnya seminggu sekali, pas malem minggu.

Lama pertemuan
- T : sesuai dengan adab bertamu
- P : selama belum ada yang komplain, lanjut !

Materi pertemuan
- T : kondisi pribadi, keluarga, harapan, serta keinginan di masa depan.
- P : cerita apa aja kejadian minggu ini, ngobrol ngalur-ngidul, ketawa-ketiwi.

Jumlah yang hadir
- T : minimal calon lelaki, calon perempuan, serta seorang pendamping (bertiga). maksimal tidak terbatas (disesuaikan adab tamu).
- P : calon lelaki dan calon perempuan saja (berdua). klo rame-rame bukan pacaran, tapi rombongan.

Biaya
- T : secukupnya dalam rangka menghormati tamu (sesuai adab tamu).
- P : kalau ada biaya: ngapel, kalau ngga ada absent dulu atau cari pinjeman.

Lamanya
- T : ketika sudah tidak ada lagi keraguan di kedua belah pihak, lebih cepat lebih baik. dan ketika informasi sudah cukup (bisa seminggu, sebulan, 2 bulan), apa lagi yang ditunggu-tunggu?
- P : bisa 3 bulan, 6 bulan, setahun, 2 tahun, bahkan mungkin 10 tahun.

Saat tidak ada kecocokan saat proses
- T : ada alasan jelas ketika salah satu pihak menyatakan ada ketidakcocokan, dan proses stop.
- P : dengan/tanpa alasan jelas, salah satu pihak bisa menyudahi dengan kata "Putus".

diadaptasi dari : http://tentang-pernikahan.com/article/articleindex.php?aid=472

CINTA dan JODOH

PENGERTIAN CINTA

Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika
seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang
Kuasa. Cinta itu universal, termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan
jenis) dan lain-lainnya.
"Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari
jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat
kembali yang baik ."(QS. Ali Imran :14).

Rasa cinta sesama manusia adalah merupakan pembuluh utama untuk
menyalurkan konsep persaudaraan yang begitu utuh.
Allah swt. berfirman, "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah
bersaudara." (Al-Hujurat: 10). Karena dekatnya hubungan satu muslim
dengan muslim yang lain sebagai saudara, jika ada yang sakit maka
semua merasa sakit.
Anas bin Malik r.a. berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,
"Tidak sempurna iman seseorang di antaramu kecuali jika ia mencintai
saudaranya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya." (Bukhari no. 13
dan Muslim no. 45)

Cinta sesama mukmin inilah yang mengajar manusia supaya mencintai ibu
bapaknya.
"..Dan hendaklah engkau merendah diri kepada keduanya kerana belas
kasihan dan kasih sayangmu, dan doakanlah (untuk mereka, dengan
berkata): "Wahai Tuhanku! Cucurilah rahmat kepada mereka berdua
sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan
mendidikku semasa kecil." (Surah Israk, ayat 24)

Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menyebut :
Diriwayatkan daripada Anas r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Tiga
perkara, jika terdapat di dalam diri seseorang maka dengan perkara
itulah dia akan memperolehi kemanisan iman: Seseorang yang mencintai
Allah dan Rasul-Nya lebih daripada selain keduanya, mencintai seorang
hanya kerana Allah, tidak suka kembali kepada kekafiran setelah Allah
menyelamatkannya dari kekafiran itu, sebagaimana dia juga tidak suka
dicampakkan ke dalam Neraka. (Bukhari : no. 15, Muslim : no. 60,
Tirmizi : no. 2548 Nasaie : no. 4901).

Islam meletakkan cinta yang tertinggi dalam kehidupan manusia ialah
cinta kepada Allah. Ketinggian nilai taqarrub Al-Abid kepada Khaliq
dapat dilihat melalui cinta murni mereka kepada Pencipta. Tanpa cinta
kepada Allah perlakuan hamba tidak memberi balasan yang bererti
sedangkan apa yang menjadi pondasi dalam Islam ialah mengenali dan
menyintai Allah. Firman Allah SWT :
"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana
mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta
kepada Allah..." (Surah Al-Baqarah ayat : 165)

CINTA KEPADA SESEORANG (LAWAN JENIS)

Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada
laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah
yang diciptakan Alloh Subhanallohu wa Ta'ala di dalam jiwa manusia,
yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai
kematangan pikiran dan fisiknya.
Namun dalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkan
manakala ikatan pernikahan di antara mereka berdua sudah jelas.
Sebelum adanya ikatan pernikahan itu, maka pada hakikatnya bukan
sebuah cinta, melainkan nafsu syahwat dan ketertarikan sesaat.
Sebagaimana Firman Alloh Subhanallohu wa Ta'ala, yang artinya: "Dan
diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu
istri-istri dari jenismu sendiri , supaya kamu cenderung dan merasa
tentram kepadanya , dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir" (QS. Ar Rum: 21).

ADAKAH CINTA SEJATI ?

Ada sebuah nasehat yang dinilai oleh sebagian ulama sebagai hadits
Nabi Muhammad saw, yang bunyinya:
"Cintailah kekasihmu secara wajar saja, siapa tahu suatu ketika ia
menjadi seterumu. Dan bencilah seterumu secara wajar juga, siapa tahu
suatu saat ia menjadi kekasihmu. "
Cinta dan benci adalah naluri manusia.

Rasulullah saw. mewasiatkan perlakuan yang baik terhadap istri-istri
dalam sabdanya, "Orang terbaik dan kalian ialah orang yang paling baik
terhadap keluarganya, dan aku orang terbaik dan kalian terhadap
keluarganya." (HR Ath-Thabrani dengan sanad yang baik).

PACARAN ATAU TA'ARUF ?

Istilah pacaran itu sebenarnya bukan bahasa hukum, karena pengertian
dan batasannya tidak sama buat setiap orang. Dan sangat mungkin
berbeda dalam setiap budaya.
Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan
yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda
Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,"Wanita itu
dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3]
kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya, kamu akan
selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa' fiddin nomor 4700,
Muslim Kitabur-Radha' Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)
Selain keempat kriteria itu, ada proses pranikah yang dilakukan untuk
saling mengenal antara calon pria dan wanita yang biasa disebut proses
TA'ARUF(perkenalan).
Adab dalam proses saling mengenal (Ta'aruf):
1. Menjaga pandangan mata dan hati dari hal-hal yang diharamkan
(QS. 24:30-31)
2. Materi pembicaraan tidak mengandung dosa dan tidak bermuatan
birahi (QS. 4:114);
3. Menghindari khalwat (berduaan)
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan
sekali-kali berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita di tempat yang
sunyi, sesungguhnya syeitan akan menjadi orang ketiganya" (HR. Ahmad);
4. Menghindari persentuhan fisik, sabda Rasul SAW: "Sesungguhnya
aku tidak pernah bersalaman dengan wanita (bukan muhrim)" (HR. Bukhari);
5. Menjaga aurat masing-masing sesuai aturan syar'i atau Islam.


Yang Dibangun Atas Dasar Iman

Jodoh adalah rahasia Allah. Sebelum menikah, kita tidak mengetahui
dengan pasti siapa jodoh yang dikirim Allah untuk kita. Bahkan tatkala
detik-detik akad nikah hendak dilangsungkan sekalipun, kita tidak bisa
menjamin bahwa nama yang tertulis dalam surat undangan pernikahan
adalah jodoh kita. Ia bisa meninggal sebelum akad nikah dilangsungkan
(Kisah pada artikel: Keburukan Datang dari Diri Sendiri). Atau ada
penghalang yang menjadikan pernikahan itu batal.

Kita bisa mengatakan bahwa ia adalah jodoh yang dikirim Allah untuk
kita, manakala akad nikah telah dilangsungkan. Manakala dia telah
resmi menjadi pasangan untuk mengaruhi suka dan duka kehidupan yang
datang silih berganti. Jodoh tidak selamanya harus "cocok", sebab
boleh jadi kecocokan yang kita kedepankan adalah versi kita, selaku
manusia yang banyak memiliki kelemahan.

Sebagai seorang manusia, seorang isteri tentu memiliki sisi positif
dan negatif. Demikian pula dengan seorang suami. Sisi-sisi itu
semuanya harus dipadukan untuk membentuk kekuatan bukan untuk saling
melemahkan. Inilah seninya hidup berumah tangga. Mengelola perbedaan
agar menumbuhkan keindahan. Mengkombinasikan persamaan untuk membentuk
kekuatan yang lebih besar. Sehingga secara utuh bangunan rumah tangga
akan kokoh dan indah. Kekokohan dan keindahan itu demikian memancar
sehingga rumah tangga lain untuk tergerak untuk meneladani dan
mempelajari rahasia-rahasia keberkahan yang ada pada mereka.

***
Pada zaman khalifah Umar bin Khattab, seorang suami hendak menceraikan
isterinya.Pesona kecantikan isterinya telah meredup sehingga ghairah
cinta kepadanya pun mulai memudar. Umar memberikan nasehat, "Sungguh
jelek niatmu. Apakah sebuah rumah tangga hanya dapat terbina dengan
cinta? Di mana takwa dan janjimu kepada Allah? Di mana pula rasa
malumu kepada-Nya? Bukankah kamu sebagai pasangan suami isteri, telah
saling bercampur dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil
perjanjian yang kuat?"

Nasehat Umar bin Khattab di atas menegaskan suatu fondasi yang harus
dibangun dalam bangunan pernikahan, yaitu cinta kepada Allah bukan
cinta kepada hawa nafsu. Sebab cinta kepada Allah akan melahirkan
takwa, yang menjadikannya hati-hati mengarungi samudera kehidupan
dalam rangka ketaatan kepada Allah. Cinta kepada Allah melahirkan rasa
malu, yaitu malu berbuat maksiat kepada Allah dan malu akan keegoan
diri. Dan cinta kepada Allah menjadikan seseorang selalu teringat dan
terikat untuk memenuhi janjinya kepada Allah, salah satunya yaitu
memperlakukan isteri sesuai dengan hukum Allah sebagai konsekuensi
diperbolehkan mencampurinya secara halal.

Sedangkan cinta kepada hawa nafsu akan menghilangkan ruh dari bangunan
pernikahan. Kenikmatan pernikahan hanya akan tercipta sepanjang
terpenuhinya kebutuhan hawa nafsu, yang secara sunatullah, akan
mengalami puncak pemenuhannya kemudian berangsur menurun dan menurun
hingga ke titik nadhir dan mengalami kebosanan. Jika hawa nafsu tidak
menemukan pemenuhannya, maka ia akan mencari "jalan lain" dengan
perselingkuhan. Atau cerai dan nikah lagi, demikian seterusnya. Dan
selamanya, tuntutan hawa nafsu itu tidak akan terpuaskan hingga ia
berpisah dari jasadnya.

Cinta kepada Allah-lah yang menjaga rumah tangga menjadi rumah tangga
yang produktif. Ibarat pohon, ia adalah pohon dengan akar yang kokoh
menghujam, cabangnya menjulang ke langit, dan buahnya lezat dan terus
berbuah sepanjang musim. Dikatakan bahwa bangunan pernikahan itu
adalah setengah dien, sebab dengan membangun rumah tangga maka
produktifitas amal kebaikan bisa ditumbuh-suburkan dan ditingkatkan.
Rumah tangga adalah sarana untuk menyempurnakan keimanan kepada Allah
dan jalan untuk menanam kebaikan di dunia dan mendulang pahala untuk
kehidupan akhirat.

Dengan dasar cinta kepada Allah, maka jalan keluar atas permasalahan
yang melilit pun diurai dalam bingkai keimanan. Ia tidak menjadi
masalah yang ruwet karena dengan keimanan jiwa-jiwa akan menjadi
lapang dan tidak terjebak oleh dorongan hawa nafsu yang selalu
memprovokasi kepada keretakan rumah tangga.

Ada kisah menarik yang menjadi cerminan saya. Saya mendapatkan
pelajaran berharga dari kisah ini.

Seseorang bermaksud menghadap Umar bin khattab hendak mengadukan
perangai buruk isterinya. Sesampai di pintu rumahnya, ia mendengar
isteri Umar mengomeli Umar sang khalifah itu, sementara Umar sendiri
hanya berdiam saja tanpa memberikan reaksi apa-apa. Di depan pintu
rumah Umar itu, ia bergumam, "Kalau keadaan Amirul Mukminin saja
begitu, bagaimana halnya dengan aku?" Ia pun beranjak pergi. Namun
bersamaan dengan itu Umar keluar. Umar pun memanggilnya, "Ada
keperluan penting?"

Ia menjawab, "Ya Amirul Mukminin, kedatanganku ini sebenarnya hendak
mengadukan perihal isteriku lantaran suka memarahiku. Tetapi begitu
mendengar isterimu sendiri berbuat seperti itu, maka aku bermaksud
kembali. Dalam hati aku berkata, kalau keadaan Amirul Mukminin saja
begitu, bagaimana halnya dengan diriku."

Umar berkata, "Saudaraku, sesungguhnya aku rela menanggung perlakuan
seperti itu dari isteriku karena adanya beberapa hak yang ada padanya.
Ia selalu bertindak sebagai juru masak makananku. Ia selalu membuatkan
roti untukku. Ia selalu mencuci pakaian-pakaianku. Ia menyusui
anak-anakku. Padahal semua itu bukan kewajibannya. Aku cukup tenteram
tidak melakukan perkara haram lantaran pelayanan isteriku, karena itu
aku menerima sekalipun dimarahi."

Orang itu berkata, "Amirul Mukminin, demikian pulakah terhadap
isteriku?" Jawab Umar, "Ya, terimalah marahnya karena yang dilakukan
isterimu tidak akan lama, hanya sebentar saja."

Kita sangat patut bercermin kepada Sahabat Umar —termasuk 10 sahabat
yang dijamin masuk surga—dalam menyikapi kehidupan berumah tangga.

Kini, betapa sering kita menyaksikan bangunan pernikahan yang retak
hanya karena masing-masing merasa tidak dihargai, dibenci, dan
dimarah-marahi. Terlebih jika seorang suami yang dimarah-marahi, pasti
ia akan merasa harga dirinya menjadi rendah, malu, dan kemudian
terdorong hatinya untuk pindah ke lain hati. Bukankah tidak sulit
seorang laki-laki untuk melakukan hal itu?

Tetapi yang dilakukan Umar, seorang Amirul Mukminin kuat, keras
pendirian, dan banyak ditakuti oleh musuh (termasuk oleh syaitan) itu
—tidaklah demikian. Beliau sangat memahami konsekuensi dari perjanjian
yang kuat (mistsaqan ghalidzan) itu. Beliau pun menyadari akan
kebaikan-kebaikan yang dilakukan isterinya dan mengedepankan
kebaikan-kebaikan itu di atas kelemahan-kelemahan yang beliau miliki.

Alangkah baiknya, demi melanggengkan bahtera pernikahan, seorang suami
selalu mengingati kebaikan-kebaikan isterinya. Tanpa kebaikan seorang
isteri, bisa jadi nafkah yang diberikan setiap bulan oleh seorang
suami rasanya tidak akan pernah cukup. Seorang suami harus menggaji
orang untuk memasak, mencuci, membersihkan rumah, menjaga anak-anak,
dan pekerjaan lainnya. Seorang suami juga harus menyediakan fasilitas
rumah, pakaian, makanan, dan kebutuhan lain dari isteri secara layak
dan memadai. Pendek kata, tugas isteri adalah berhias dan melayani
kita dengan sebaik-baiknya, yang lain (terutama mencari nafkah untuk
optimalisasi tugas isteri tersebut) adalah tugas dan tanggungjawab suami.

Jika seorang suami merasa belum bisa mencukupi kebutuhan isteri,
lebih-lebih sang isteri harus membanting tulang membantu suami mencari
nafkah, maka selayaknya ia harus berkaca dari kelemahannya itu demi
menumbuhkan penghargaan terhadap sang isteri. Tentu saja, sang isteri
juga harus memahami bahwa dengan posisi lebihnya itu ia tidak bisa
memaki seenak hati. Ia tetap dianjurkan taat kepada suami demi
mendapatkan keridhaannya.

***

Hari ini, saya mencoba merenungi diri. Betapa banyak kelemahan yang
saya miliki sebagai suami, betapa banyak kebaikan-kebaikan yang
diberikan oleh isteri. Keterlibatan saya di dalam mengasuh anak-anak,
membantu pekerjaan rumah tangga, dan membantu aktivitasnya yang lain,
rasanya belum cukup untuk membalas semua kebaikannya itu. Saya belum
bisa memberikan sesuatu yang berharga dan membahagiakan dirinya.

Hanya terlintas dalam hati, `andai saya tidak ridha kepada isteri
saya, alangkah dzalimnya saya. Padahal ia tidak melakukan kemaksiatan
apapun.' Pada akhirnya saya berfikir, hanya ridha suami inilah yang
bisa saya berikan kepadanya. Ridha suami inilah yang saya harapkan
semoga menjadi jalan baginya untuk memasuki surga-Nya dari pintu mana
saja. Mengharapkannya menjadi bidadari di surga yang penuh kenikmatan,
sebagai buah dari tugasnya sebagai bidadari di dunia yang dipenuhi
ketaatan dan kesabaran. Kadang saya bersedih merenungi kelemahan diri
karena tidak bisa memberikan apa-apa. Tetapi saya optimis bahwa Allah
akan memberikan balasan terbaik untuknya. Insya Allah.

Waallahua'lam bishshawaab.

Oleh Muhammad Rizqon

Sumber :
http://www.eramuslim.com/atk/oim/8418062735--dibangun-atas-dasar-iman.htm

Thursday, May 29, 2008

TA’ARUF (Gali Informasi Secukupnya)


* Masalah normatif memang klise, tapi penting. Mengabaikan hal yang satu ini samalah artinya dengan tidak peduli pada jalan pikiran seseorang, cara pandangnya terhadap satu masalah dan lebih jauh lagi adalah masalah konsep hidupnya.

Sangat baik bila sebelum menikah, kita sudah memiliki gambaran akan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut :

- apa tujuan menikah ?

- kriteria istri/suami idaman ?

- bagaimana cara membina hubungan suami istri yang harmonis ?

- apa jurus jitu dalam menghadapi problematika rumah tangga ?

- bagaimana pandangannya tentang konsep ‘qowwam’ ?

- bagaimana bila realitas tak seindah harapan ?

Itu baru yang bersifat umum. Tak ada salahnya jika kita ingin mengetahui lebih jauh tentang :

- pandangannya terhadap istri yang sibuk di luar dalam rangka dakwah atau aktualisasi diri.

- juga masalah kemandirian rumah tangga pasca menikah; tinggal dengan orangtua atau akan segera ‘misah’ ?

- bantuan dalam menangani urusan rumah tangga ?

- pendidikan anak?

- sosialisasi dengan keluarga dua belah pihak?

* Masalah ekonomi sering disinyalir sebagai penyebab retaknya biduk rumah tangga. Sebagai penjajakan, lihat bagaimana :

- bentuk ikhtiar yang telah dilakukan dalam rangka mengumpulkan rezeki Alloh

- bagaimana ‘proyeksi’ ke depan

- juga kiat dalam menghadapi masa-masa sulit yang bisa saja terjadi dalam perjalanan hidup ?

* Tak kalah perlunya adalah penjajakan tentang konsep diri si calon :

- bagaimana ia mendeskripsikan dirinya ?

- upaya untuk mengenali kelemahan dan potensi diri ?

- upaya untuk meraih predikat ‘insan kamil’ ?

- cara pandang lingkungan dan pengaruhnya pada diri ?

- bagaimana ia memandang masa depan ?

- obsesinya terhadap kehidupan ?

- dan, last but not least, kepedulian terhadap dakwah !

* Jangan pula sepelekan masalah ‘kecil’ yang sering menjadi pengganjal dalam interaksi suami-istri kelak, semisal :

- watak dasar

- kebiasaan sehari-hari

- hal-hal yang disukai dan tidak disukai

- kedekatan dengan seseorang

- kondisi keluarga dan huibungannya dengan keluarga selama ini ?



* Pentingkah masa lalu ?

Memilih bersikap "yang baik biarlah menjadi tabungan pahalanya dan yang buruk biarlah menjadi rahasianya dengan Alloh", adalah sikap bijaksana! Kecuali bila ada hal-hal yang sangat perlu untuk diceritakan.

* Perhatian pada masalah di atas jangan sampai membuat kita terlena untuk mengetahui :

- kapan target menikah

- dan apa yang sudah dipersiapkan (lebih pada materi) untuk menghadapi saat ‘istimewa’ tersebut ? (ingat, perempuan memiliki hak untuk minta mahar)

Poin-poin di atas adalah hal yang sebaiknya diketahui. Dan ingat dalam prakteknya tidak harus dituangkan secara vulgar dan langsung. Bisa kan memakai cara halus dengan mencari tahu via perantara, sahabat, keluarga, atau pihak lain yang amanah.

Selamat ber ta’aruf !

(Referensi : Majalah Paras)

Sumber lain mengatakan pula, kenali dulu calon suami dalam hal :

- umpan balik komitmen serta tujuan pernikahan

- pengenalan diri masing-masing mulai dari kelebihan, kekurangan, kebiasaan, sampai visi hidup

- mengenal keluarga : orangtua dan saudara

- wawasan pengasuhan anak

- perilaku seks

- visi dalam mengelola rumah tangga dan keuangan

Semoga bermanfaat

ENSIKLOPEDI CINTA

ENSIKLOPEDI  CINTA


Ensiklopedi Cinta  Yang  Syar'i
Cinta Kepada Alloh SWT
Engkau durhaka kepada Alloh SWT dan sekaligus menaruh cinta kepada-Nya. Ini adalah suatu kemustahilan !.  Apabila benar engkau mencintai-Nya, pastilah engkau taati semua perintah-Nya.
Sesungguhnya orang menaruh cinta tentulah bersedia menaati perintah orang yang dicintainya.
Dia telah kirimkan nikmat-Nya kepadamu setiap saat dan tak ada rasa syukur yang engkau panjatkan kepada-Nya. (Imam Syafi’i)
 
 
Mencintai Wanita
Semua orang menyenangi wanita, tetapi mereka berkata, “Mencintai wanita adalah awal sebuah derita.
"Bukan wanita yang membuat derita, tetapi mencintai wanita yang tidak mencintaimulah yang akan menciptakan derita bagimu."(Imam Syafi’i)
 
Senda Gurau
Yaqut al-Hamawi meriwayatkan dari Ibnu Umar al-Syafi’i, dia mengatakan bahwa Abu Abdillah al-Syafi’i pernah menikahi seorang wanita Quraisy di Mekkah. Kemudian al-Syafi’I pernah mencandai istrinya itu dengan mengatakan:
Di antara malapetaka yang sangat dahsyat adalah jika kamu mencintai wanita atau laki-laki yang tidak mencintai kamu. Ia akan selalu berpaling darimu. Meskipun kamu menungguinya dengan penuh kesabaran, ia tak akan menggubrismu.(Imam Syafi’i)
 
Membalas Kebaikan dengan Kejahatan
Malapetaka paling besar adalah bila engkau mencintai seseorang yang sedang mencintai orang lain. Atau jika engkau mengharap kebaikan seseorang, akan tetapi justru orang itu berharap agar kita celaka atau binasa.(Imam Syafi’i)
 
Mencintai Orang-orang Saleh
Aku mencintai orang-orang saleh, meskipun aku belum termasuk golongan mereka. Aku tetap berharap semoga aku mendapatkan syafaat dari mereka.
Aku membenci orang-orang durhaka meskipun sebenarnya, mungkin, aku pun termasuk golongan mereka.(Imam Syafi’i)
 
Kewajiban Mencintai Keluarga Rasulullah
Wahai keluarga Rasul! Mencintai kalian wajib hukumnya menurut al-Qur’an.
Kami bangga dengan kalian. Orang yang tidak membaca shalawat untuk kalian, tidak akan mendapat rahmat.(Imam Syafi’i)
 
Cinta Alloh SWT pada Manusia
Rasulullah Saw. bersabda, Alloh SWT Swt. berfirman:
Hamba-Ku yang beriman masih terus mendekatkan diri kepada-Ku sampai Aku mencitainya.
Maka bila Aku mencintainya, jadilah Aku pendengarnya, penglihatannya… (Hadis Qudsi)
 
 
Cinta Membersihkan Hati
Cinta kepada Alloh SWT dapat membersihkan hati dari kenistaan dan ketergantungan terhadap dunia.
Cinta kepada Alloh SWT adalah factor yang terkuat pengaruhnya dalam hati manusia. Ia adalah api dan cahaya.
Ia membersihkan hati, menerangi dan memberinya keteguhan.
(Muhammad Mahdi al-Shifi)
 
Menangis Bukan Karena Cinta Dunia
Amru bin Geis berkata sambil menangis di waktu menderita sakit yang menghantarkannya pada sang sakaratul maut:
“Saya bukan menangis karena dunia yang kalian cintai, tetapi yang kutangisi adalah terpisahnya tenggorokanku dari kehausan di musim panas dan terpisahnya diriku dari bangun malam di musim dingin.”
(Muhammad Mahdi al-Shufi)
 
Rindu pada Alloh SWT
Abdullah bin Zakaria berkata:
“Sekiranya aku disuruh memilih umur sampai seratus tahun dan kugunakan untuk beribadah kepada Alloh SWT dengan nyawaku diambil hari ini juga, niscaya kupilih nyawaku dicabut sekarang juga, karena rinduku kepada Alloh SWT dan Rasul-Nya serta orang-orang saleh dari hamba-hamba-Nya.( Muhammad Mahdi al-Shifi)
 
Sakit Cinta
Suatu ketika, Jalaluddin Rumi ditanya gurunya, Syamsuddin Tabriz, “Apakah Anda tidak mengetahui, bahwa semua orang sakit mendambakan kesembuhan, kecuali para penderita sakit cinta, mereka merindukan sakitnya bertambah dan berhasrat agar sakitnya itu berlipat ganda. Cinta adalah penyakit, tetap ia akan membebaskan penderitaannya dari segala penyakit lain.
 
Apabila penyakit cinta menimpa seseorang, maka dia tidak akan ditimpa penyakit lain.
Ruhaninya menjadi sehat, bahwa nyawanya adalah kesehatan, yang semua orang ingin membelinya.*
 
Jangan Cinta Seperti Anjing
Jika mata batin Anda tidak mampu menangkap dan mencermati secara seksama terhadap kemuliaan dan kesempurnaan Sang Maha Pencipta dan tidak mampu mencintai-Nya dengan kecintaan yang amat sangat, maka Anda jangan sampai tidak mencintai pemberi nikmat dan yang berbuat baik kepada Anda.
 
Anda jangan sekali-kali lebih rendah dari seekor anjing, sebab anjing itu mencintai tuannya yang selalu berbuat baik kepadanya.(Imam al-Ghazali)
 
Kehilangan Mahabbah
Mahabbah kepada Alloh SWT ibarat air kehidupan bagi hati dan konsumsi pokok dari setiap jiwa manusia.
Tidak ada kelezatan, kenikmatan, kebahagiaan dan kehidupan bagi hati, kecuali dengan mahabbatullah. Apabila hati manusia kehilangan mahabbah, maka ia akan merasakan sakit yang amat sangat, melebihi sakitnya mata yang kehilangan korneanya, telinga yang kehilangan gendang pendengarannya, bahkan menyebabkan kerusakan hati.
Apabila hati sudah kosong dari mahabbah kepada Sang Khalik, maka dapat dipastikan bahwa rusaknya hati lebih parah daripada rusaknya raga terpisah dari ruhnya. (Dr. Ahmad Faried)
 
 
Hati Orang Bermahabbah
Fatah al-Mushili berkata:
“Orang yang memiliki mahabbah, baginya dunia ini bukan tempat mereguk semua kelezatan yang kekal, selalu mengingat Alloh SWT, walaupun hanya sekejap mata.”
Sebagian ulama salaf berkata: “Orang yang bermahabbah, hatinya senantiasa melayang mencari-Nya, mencari keridlaan-Nya dengan segala cara ia mampu untuk melakukannya berupa amalan-amalan fardlu maupun sunnah (nawafil), dengan merasakan rindu yang membara (syauq) kepada-Nya.( Dr. Ahmad Faried)
 
Cinta dan Pengampunan
Cinta dan pengampunan Alloh SWT kepada manusia adalah rahmat. Sedangkan cinta manusia kepada Alloh SWT adalah suatu kualitas yang dimanifestasikan di dalam hati para Mukminin, sehingga mereka akan selalu berusaha memuaskan Kekasihnya.
 
Merasa serentak dan tanpa henti-hentinya, dorongan rindu tanpa henti-hentinya untuk dapat memandang Alloh SWT serta tidak dapat dialihkan kepada siapa pun kecuali Alloh SWT.
 
Akan selalu merasa akrab dengan mengingat-ingat-Nya dan bersumpah tidak akan mengalihkan ingatannya itu kepada selain-Nya.
(al-Hujwiri)
 
Dua Macam Cinta Mukminin
Para Mukminin yang mencintai Alloh SWT terdapat dua macam:
Pertama, mereka yang menganggap bahwa kebaikan dan kedermawanan Alloh SWT kepada mereka, dan dibimbing oleh anggapan tersebut untuk mencintai Sang Dermawan.
 
Kedua, bagi mereka yang tertawan hatinya oleh cinta, di mana mereka berpendapat bahwa semua kebaikan-kebaikan Alloh SWT bagaikan sebuah hijab (antara mereka dengan Alloh SWT), dan dengan manganggap Alloh SWT sebagai Dermawan akan membimbing pada perenungan kebaikan-kebaikan Alloh SWT.(al-Hujwiri)
 
Cinta Orang Kafir dan Beriman
Alloh SWT Swt. berfirman:
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh SWT, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh SWT. Adapun orang-orang yang beriman dengan sangat mencintai Alloh SWT. (QS. al-Baqarah: 165).
 
Zuhud Dunia
Rasulullah Saw bersabda:
Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Alloh SWT akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada pada manusia, pasti manusia mencintaimu.
 
Cinta bagaikan Bara Api
Cinta adalah penyembuh bagi kebanggaan dan kesombongan, dan pengobat bagi seluruh kekurangan diri.
Cinta adalah bara api yang siap membakar dan menyala, selain yang dicinta.
Tauhid adalah pedang, yang jika diayunkan oleh pemiliknya akan dapat membakar semuanya, selain Alloh SWT Swt.
 
Ibadah dengan Cinta
Di taman cinta yang indah mempesona, ibadah itu berubah menjadi keindahan dalam kehidupan yang membawa kesenangan, keriangan, dan kebahagiaan.
Di bawah keteduhan naungan cinta, perintah ibadah tidak lagi menjadi beban yang harus dipikul, tetapi ia adalah sesuatu yang patut diterima dengan senang dan gembira. (Khalid Muhammad Khalid)
 
Cinta Ingin Berjumpa dengan Alloh SWT
Cinta kepada Alloh SWT itu menarik-narik dari Ahlullah berbagai  penjuru, maka sebagian dari mereka ada yang menghendaki hidup seribu tahun agar kelezatan ibadah itu dapat dirasakan terus menerus dalam kerinduan.
Sebagian lagi ada yang menghendaki secepatnya meninggalkan dunia fana ini, bahkan mereka sanggup membayarnya dengan harga yang mahal, agar mereka dapat segera merasakan manisnya perjumpaan dengan Alloh SWT Swt.( Khalid Muhammad Khalid)


Sumber: 
Faathul Barii, MinHajul Qashidiin, Al-Hikam, Al-Azkaar, Riyadhis Shalihin.
         

FW: Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia

Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia
===================================================

Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia
Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya
dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini
hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak
baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.
Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena
anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan
begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah. Setiap sore, ibu
selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap panci di rumah kami
bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun. Menjelang malam,
dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci,
lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang
lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.
Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses
pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan
kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab.
Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan,
setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih
mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat
anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong
anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.

Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno. Ayah saya
adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar
seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik,
dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis
terisak secara diam diam di sudut halaman.
Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi,
menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.
Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan
dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya
mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.
Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan
perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh
dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang
yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar.

Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara
perlahan –lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini. Di masa awal
perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan
keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan
sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri. Anehnya, saya
tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak
bahagia.
Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu,
dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh
hati. Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. .
Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami
saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik!
Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat masih ada
separoh lantai lagi yang belum di pel ?
Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang
sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu
juga kerap berkata begitu sama ayah. Saya sedang mempertunjukkan
kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali
ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul
dalam hati saya.

Yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan
teringat akan ayah saya…
Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam
perkawinannya, waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada
menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah
cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah
yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia
berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah
mengerjakan urusan rumah tangga. Dan aku, aku juga menggunakan caraku
berusaha mencintai suamiku. Cara saya juga sama seperti ibu,
perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita,
dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang
bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami,
menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain
pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.
Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?

Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor
sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan
begitu kau bisa menemaniku! ujar suamiku.

Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada
yang mencuci pakaianmu….dan saya mengatakan sekaligus serentetan
hal-hal yang dibutuhkannya.
Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. Yang paling kuharapkan
adalah kau bisa lebih sering menemaniku.
Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya
benar-benar membuat saya terkejut.
Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya
sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang
sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun,
bukannya cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan
Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan
meletakkanya di atas meja buku,
Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar
kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti
misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling
memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila
berangkat.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit,
misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan
suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan
tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi
laki-laki. Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia
bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan
serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun,
jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami
ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya
hidup. Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang
dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar
merancang perjalanan keluar kota. Menariknya, pergi ke taman flora
adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu
pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati
masing-masing. Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga
dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak
ke tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam
suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah
menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya
akhirnya melangkah ke jalan bahagia. Kini, saya tahu kenapa perkawinan
ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan
cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya
dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat
merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati
ini juga sudah kecewa dan hancur. Karena Tuhan telah menciptakan
perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki
sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu
tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi
atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik, pasti dapat
diharapkan.

Sumber : milis ukhuwah_sehati@yahoogroups.com

Untuk calon pasutri akhir zaman


Untuk Calon Suami


Pernikahan atau perkawinan,

Menyingkap tabir rahasia ...
Isteri yang kamu nikahi,
Tidaklah semulia Khadijah,
Tidaklah setaqwa Aisyah,
Pun tidak setabah Fatimah ...
Justru Isteri hanyalah wanita akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Menjadi solehah...

Pernikahan ataupun perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama ...
Isteri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya,
Isteri ladang tanaman, Kamu pemagarnya,
Isteri kiasan ternakan, Kamu gembalanya,
Isteri adalah murid, Kamu mursyid (pembimbing)-nya,
Isteri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya ..
Saat Isteri menjadi madu, Kamu teguklah sepuasnya,
Seketika Isteri menjadi racun, Kamulah penawar bisanya,
Seandainya Isteri tulang yang bengkok,
ber-hati2lah meluruskannya ...

Pernikahan ataupun perkawinan,
Menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa ...
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Muhammad Rasulullah atau Isa As,
Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamaullahhuwajah,
Cuma suami akhir zaman, yang berusaha menjadi soleh ...
Amiiin ...


Untuk Calon Istri


Pernikahan atau perkawinan,

Membuka tabir rahasia,
Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah semulia Muhammad,
Tidaklah setaqwa Ibrahim,
Pun tidak setabah Isa atau Ayub,
Atau pun segagah Musa,
Apalagi setampan Yusuf
Justru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Membangun keturunan yang soleh ...

Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,
Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
Suami adalah Nahkoda kapal, Kamu navigatornya,
Suami bagaikan balita yang nakal, Kamulah penuntun kenakalannya,
Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singasananya,
Seketika Suami menjadi bisa, Kamulah penawar obatnya,
Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya

Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa,
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justru Kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Khadijah, yang begitu sempurna di dalam menjaga
Pun bukanlah Hajar ataupun Mariam, yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir zaman, yang berusaha menjadi solehah ...
Amiiin ...