/* Template shelterhati.blogspot.com */ :: Shelter hati ::: May 2008

:: Shelter hati ::

( sejenak menyandarkan hati )

Thursday, May 29, 2008

TA’ARUF (Gali Informasi Secukupnya)


* Masalah normatif memang klise, tapi penting. Mengabaikan hal yang satu ini samalah artinya dengan tidak peduli pada jalan pikiran seseorang, cara pandangnya terhadap satu masalah dan lebih jauh lagi adalah masalah konsep hidupnya.

Sangat baik bila sebelum menikah, kita sudah memiliki gambaran akan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut :

- apa tujuan menikah ?

- kriteria istri/suami idaman ?

- bagaimana cara membina hubungan suami istri yang harmonis ?

- apa jurus jitu dalam menghadapi problematika rumah tangga ?

- bagaimana pandangannya tentang konsep ‘qowwam’ ?

- bagaimana bila realitas tak seindah harapan ?

Itu baru yang bersifat umum. Tak ada salahnya jika kita ingin mengetahui lebih jauh tentang :

- pandangannya terhadap istri yang sibuk di luar dalam rangka dakwah atau aktualisasi diri.

- juga masalah kemandirian rumah tangga pasca menikah; tinggal dengan orangtua atau akan segera ‘misah’ ?

- bantuan dalam menangani urusan rumah tangga ?

- pendidikan anak?

- sosialisasi dengan keluarga dua belah pihak?

* Masalah ekonomi sering disinyalir sebagai penyebab retaknya biduk rumah tangga. Sebagai penjajakan, lihat bagaimana :

- bentuk ikhtiar yang telah dilakukan dalam rangka mengumpulkan rezeki Alloh

- bagaimana ‘proyeksi’ ke depan

- juga kiat dalam menghadapi masa-masa sulit yang bisa saja terjadi dalam perjalanan hidup ?

* Tak kalah perlunya adalah penjajakan tentang konsep diri si calon :

- bagaimana ia mendeskripsikan dirinya ?

- upaya untuk mengenali kelemahan dan potensi diri ?

- upaya untuk meraih predikat ‘insan kamil’ ?

- cara pandang lingkungan dan pengaruhnya pada diri ?

- bagaimana ia memandang masa depan ?

- obsesinya terhadap kehidupan ?

- dan, last but not least, kepedulian terhadap dakwah !

* Jangan pula sepelekan masalah ‘kecil’ yang sering menjadi pengganjal dalam interaksi suami-istri kelak, semisal :

- watak dasar

- kebiasaan sehari-hari

- hal-hal yang disukai dan tidak disukai

- kedekatan dengan seseorang

- kondisi keluarga dan huibungannya dengan keluarga selama ini ?



* Pentingkah masa lalu ?

Memilih bersikap "yang baik biarlah menjadi tabungan pahalanya dan yang buruk biarlah menjadi rahasianya dengan Alloh", adalah sikap bijaksana! Kecuali bila ada hal-hal yang sangat perlu untuk diceritakan.

* Perhatian pada masalah di atas jangan sampai membuat kita terlena untuk mengetahui :

- kapan target menikah

- dan apa yang sudah dipersiapkan (lebih pada materi) untuk menghadapi saat ‘istimewa’ tersebut ? (ingat, perempuan memiliki hak untuk minta mahar)

Poin-poin di atas adalah hal yang sebaiknya diketahui. Dan ingat dalam prakteknya tidak harus dituangkan secara vulgar dan langsung. Bisa kan memakai cara halus dengan mencari tahu via perantara, sahabat, keluarga, atau pihak lain yang amanah.

Selamat ber ta’aruf !

(Referensi : Majalah Paras)

Sumber lain mengatakan pula, kenali dulu calon suami dalam hal :

- umpan balik komitmen serta tujuan pernikahan

- pengenalan diri masing-masing mulai dari kelebihan, kekurangan, kebiasaan, sampai visi hidup

- mengenal keluarga : orangtua dan saudara

- wawasan pengasuhan anak

- perilaku seks

- visi dalam mengelola rumah tangga dan keuangan

Semoga bermanfaat

ENSIKLOPEDI CINTA

ENSIKLOPEDI  CINTA


Ensiklopedi Cinta  Yang  Syar'i
Cinta Kepada Alloh SWT
Engkau durhaka kepada Alloh SWT dan sekaligus menaruh cinta kepada-Nya. Ini adalah suatu kemustahilan !.  Apabila benar engkau mencintai-Nya, pastilah engkau taati semua perintah-Nya.
Sesungguhnya orang menaruh cinta tentulah bersedia menaati perintah orang yang dicintainya.
Dia telah kirimkan nikmat-Nya kepadamu setiap saat dan tak ada rasa syukur yang engkau panjatkan kepada-Nya. (Imam Syafi’i)
 
 
Mencintai Wanita
Semua orang menyenangi wanita, tetapi mereka berkata, “Mencintai wanita adalah awal sebuah derita.
"Bukan wanita yang membuat derita, tetapi mencintai wanita yang tidak mencintaimulah yang akan menciptakan derita bagimu."(Imam Syafi’i)
 
Senda Gurau
Yaqut al-Hamawi meriwayatkan dari Ibnu Umar al-Syafi’i, dia mengatakan bahwa Abu Abdillah al-Syafi’i pernah menikahi seorang wanita Quraisy di Mekkah. Kemudian al-Syafi’I pernah mencandai istrinya itu dengan mengatakan:
Di antara malapetaka yang sangat dahsyat adalah jika kamu mencintai wanita atau laki-laki yang tidak mencintai kamu. Ia akan selalu berpaling darimu. Meskipun kamu menungguinya dengan penuh kesabaran, ia tak akan menggubrismu.(Imam Syafi’i)
 
Membalas Kebaikan dengan Kejahatan
Malapetaka paling besar adalah bila engkau mencintai seseorang yang sedang mencintai orang lain. Atau jika engkau mengharap kebaikan seseorang, akan tetapi justru orang itu berharap agar kita celaka atau binasa.(Imam Syafi’i)
 
Mencintai Orang-orang Saleh
Aku mencintai orang-orang saleh, meskipun aku belum termasuk golongan mereka. Aku tetap berharap semoga aku mendapatkan syafaat dari mereka.
Aku membenci orang-orang durhaka meskipun sebenarnya, mungkin, aku pun termasuk golongan mereka.(Imam Syafi’i)
 
Kewajiban Mencintai Keluarga Rasulullah
Wahai keluarga Rasul! Mencintai kalian wajib hukumnya menurut al-Qur’an.
Kami bangga dengan kalian. Orang yang tidak membaca shalawat untuk kalian, tidak akan mendapat rahmat.(Imam Syafi’i)
 
Cinta Alloh SWT pada Manusia
Rasulullah Saw. bersabda, Alloh SWT Swt. berfirman:
Hamba-Ku yang beriman masih terus mendekatkan diri kepada-Ku sampai Aku mencitainya.
Maka bila Aku mencintainya, jadilah Aku pendengarnya, penglihatannya… (Hadis Qudsi)
 
 
Cinta Membersihkan Hati
Cinta kepada Alloh SWT dapat membersihkan hati dari kenistaan dan ketergantungan terhadap dunia.
Cinta kepada Alloh SWT adalah factor yang terkuat pengaruhnya dalam hati manusia. Ia adalah api dan cahaya.
Ia membersihkan hati, menerangi dan memberinya keteguhan.
(Muhammad Mahdi al-Shifi)
 
Menangis Bukan Karena Cinta Dunia
Amru bin Geis berkata sambil menangis di waktu menderita sakit yang menghantarkannya pada sang sakaratul maut:
“Saya bukan menangis karena dunia yang kalian cintai, tetapi yang kutangisi adalah terpisahnya tenggorokanku dari kehausan di musim panas dan terpisahnya diriku dari bangun malam di musim dingin.”
(Muhammad Mahdi al-Shufi)
 
Rindu pada Alloh SWT
Abdullah bin Zakaria berkata:
“Sekiranya aku disuruh memilih umur sampai seratus tahun dan kugunakan untuk beribadah kepada Alloh SWT dengan nyawaku diambil hari ini juga, niscaya kupilih nyawaku dicabut sekarang juga, karena rinduku kepada Alloh SWT dan Rasul-Nya serta orang-orang saleh dari hamba-hamba-Nya.( Muhammad Mahdi al-Shifi)
 
Sakit Cinta
Suatu ketika, Jalaluddin Rumi ditanya gurunya, Syamsuddin Tabriz, “Apakah Anda tidak mengetahui, bahwa semua orang sakit mendambakan kesembuhan, kecuali para penderita sakit cinta, mereka merindukan sakitnya bertambah dan berhasrat agar sakitnya itu berlipat ganda. Cinta adalah penyakit, tetap ia akan membebaskan penderitaannya dari segala penyakit lain.
 
Apabila penyakit cinta menimpa seseorang, maka dia tidak akan ditimpa penyakit lain.
Ruhaninya menjadi sehat, bahwa nyawanya adalah kesehatan, yang semua orang ingin membelinya.*
 
Jangan Cinta Seperti Anjing
Jika mata batin Anda tidak mampu menangkap dan mencermati secara seksama terhadap kemuliaan dan kesempurnaan Sang Maha Pencipta dan tidak mampu mencintai-Nya dengan kecintaan yang amat sangat, maka Anda jangan sampai tidak mencintai pemberi nikmat dan yang berbuat baik kepada Anda.
 
Anda jangan sekali-kali lebih rendah dari seekor anjing, sebab anjing itu mencintai tuannya yang selalu berbuat baik kepadanya.(Imam al-Ghazali)
 
Kehilangan Mahabbah
Mahabbah kepada Alloh SWT ibarat air kehidupan bagi hati dan konsumsi pokok dari setiap jiwa manusia.
Tidak ada kelezatan, kenikmatan, kebahagiaan dan kehidupan bagi hati, kecuali dengan mahabbatullah. Apabila hati manusia kehilangan mahabbah, maka ia akan merasakan sakit yang amat sangat, melebihi sakitnya mata yang kehilangan korneanya, telinga yang kehilangan gendang pendengarannya, bahkan menyebabkan kerusakan hati.
Apabila hati sudah kosong dari mahabbah kepada Sang Khalik, maka dapat dipastikan bahwa rusaknya hati lebih parah daripada rusaknya raga terpisah dari ruhnya. (Dr. Ahmad Faried)
 
 
Hati Orang Bermahabbah
Fatah al-Mushili berkata:
“Orang yang memiliki mahabbah, baginya dunia ini bukan tempat mereguk semua kelezatan yang kekal, selalu mengingat Alloh SWT, walaupun hanya sekejap mata.”
Sebagian ulama salaf berkata: “Orang yang bermahabbah, hatinya senantiasa melayang mencari-Nya, mencari keridlaan-Nya dengan segala cara ia mampu untuk melakukannya berupa amalan-amalan fardlu maupun sunnah (nawafil), dengan merasakan rindu yang membara (syauq) kepada-Nya.( Dr. Ahmad Faried)
 
Cinta dan Pengampunan
Cinta dan pengampunan Alloh SWT kepada manusia adalah rahmat. Sedangkan cinta manusia kepada Alloh SWT adalah suatu kualitas yang dimanifestasikan di dalam hati para Mukminin, sehingga mereka akan selalu berusaha memuaskan Kekasihnya.
 
Merasa serentak dan tanpa henti-hentinya, dorongan rindu tanpa henti-hentinya untuk dapat memandang Alloh SWT serta tidak dapat dialihkan kepada siapa pun kecuali Alloh SWT.
 
Akan selalu merasa akrab dengan mengingat-ingat-Nya dan bersumpah tidak akan mengalihkan ingatannya itu kepada selain-Nya.
(al-Hujwiri)
 
Dua Macam Cinta Mukminin
Para Mukminin yang mencintai Alloh SWT terdapat dua macam:
Pertama, mereka yang menganggap bahwa kebaikan dan kedermawanan Alloh SWT kepada mereka, dan dibimbing oleh anggapan tersebut untuk mencintai Sang Dermawan.
 
Kedua, bagi mereka yang tertawan hatinya oleh cinta, di mana mereka berpendapat bahwa semua kebaikan-kebaikan Alloh SWT bagaikan sebuah hijab (antara mereka dengan Alloh SWT), dan dengan manganggap Alloh SWT sebagai Dermawan akan membimbing pada perenungan kebaikan-kebaikan Alloh SWT.(al-Hujwiri)
 
Cinta Orang Kafir dan Beriman
Alloh SWT Swt. berfirman:
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh SWT, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh SWT. Adapun orang-orang yang beriman dengan sangat mencintai Alloh SWT. (QS. al-Baqarah: 165).
 
Zuhud Dunia
Rasulullah Saw bersabda:
Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Alloh SWT akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada pada manusia, pasti manusia mencintaimu.
 
Cinta bagaikan Bara Api
Cinta adalah penyembuh bagi kebanggaan dan kesombongan, dan pengobat bagi seluruh kekurangan diri.
Cinta adalah bara api yang siap membakar dan menyala, selain yang dicinta.
Tauhid adalah pedang, yang jika diayunkan oleh pemiliknya akan dapat membakar semuanya, selain Alloh SWT Swt.
 
Ibadah dengan Cinta
Di taman cinta yang indah mempesona, ibadah itu berubah menjadi keindahan dalam kehidupan yang membawa kesenangan, keriangan, dan kebahagiaan.
Di bawah keteduhan naungan cinta, perintah ibadah tidak lagi menjadi beban yang harus dipikul, tetapi ia adalah sesuatu yang patut diterima dengan senang dan gembira. (Khalid Muhammad Khalid)
 
Cinta Ingin Berjumpa dengan Alloh SWT
Cinta kepada Alloh SWT itu menarik-narik dari Ahlullah berbagai  penjuru, maka sebagian dari mereka ada yang menghendaki hidup seribu tahun agar kelezatan ibadah itu dapat dirasakan terus menerus dalam kerinduan.
Sebagian lagi ada yang menghendaki secepatnya meninggalkan dunia fana ini, bahkan mereka sanggup membayarnya dengan harga yang mahal, agar mereka dapat segera merasakan manisnya perjumpaan dengan Alloh SWT Swt.( Khalid Muhammad Khalid)


Sumber: 
Faathul Barii, MinHajul Qashidiin, Al-Hikam, Al-Azkaar, Riyadhis Shalihin.
         

FW: Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia

Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia
===================================================

Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia
Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya
dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini
hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak
baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.
Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena
anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan
begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah. Setiap sore, ibu
selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap panci di rumah kami
bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun. Menjelang malam,
dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci,
lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang
lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.
Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses
pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan
kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab.
Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan,
setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih
mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat
anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong
anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.

Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno. Ayah saya
adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar
seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik,
dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis
terisak secara diam diam di sudut halaman.
Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi,
menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.
Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan
dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya
mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.
Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan
perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh
dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang
yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar.

Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara
perlahan –lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini. Di masa awal
perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan
keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan
sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri. Anehnya, saya
tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak
bahagia.
Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu,
dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh
hati. Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. .
Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami
saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik!
Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat masih ada
separoh lantai lagi yang belum di pel ?
Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang
sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu
juga kerap berkata begitu sama ayah. Saya sedang mempertunjukkan
kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali
ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul
dalam hati saya.

Yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan
teringat akan ayah saya…
Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam
perkawinannya, waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada
menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah
cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah
yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia
berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah
mengerjakan urusan rumah tangga. Dan aku, aku juga menggunakan caraku
berusaha mencintai suamiku. Cara saya juga sama seperti ibu,
perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita,
dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang
bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami,
menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain
pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.
Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?

Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor
sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan
begitu kau bisa menemaniku! ujar suamiku.

Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada
yang mencuci pakaianmu….dan saya mengatakan sekaligus serentetan
hal-hal yang dibutuhkannya.
Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. Yang paling kuharapkan
adalah kau bisa lebih sering menemaniku.
Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya
benar-benar membuat saya terkejut.
Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya
sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang
sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun,
bukannya cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan
Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan
meletakkanya di atas meja buku,
Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar
kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti
misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling
memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila
berangkat.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit,
misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan
suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan
tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi
laki-laki. Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia
bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan
serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun,
jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami
ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya
hidup. Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang
dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar
merancang perjalanan keluar kota. Menariknya, pergi ke taman flora
adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu
pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati
masing-masing. Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga
dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak
ke tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam
suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah
menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya
akhirnya melangkah ke jalan bahagia. Kini, saya tahu kenapa perkawinan
ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan
cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya
dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat
merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati
ini juga sudah kecewa dan hancur. Karena Tuhan telah menciptakan
perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki
sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu
tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi
atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik, pasti dapat
diharapkan.

Sumber : milis ukhuwah_sehati@yahoogroups.com

Untuk calon pasutri akhir zaman


Untuk Calon Suami


Pernikahan atau perkawinan,

Menyingkap tabir rahasia ...
Isteri yang kamu nikahi,
Tidaklah semulia Khadijah,
Tidaklah setaqwa Aisyah,
Pun tidak setabah Fatimah ...
Justru Isteri hanyalah wanita akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Menjadi solehah...

Pernikahan ataupun perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama ...
Isteri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya,
Isteri ladang tanaman, Kamu pemagarnya,
Isteri kiasan ternakan, Kamu gembalanya,
Isteri adalah murid, Kamu mursyid (pembimbing)-nya,
Isteri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya ..
Saat Isteri menjadi madu, Kamu teguklah sepuasnya,
Seketika Isteri menjadi racun, Kamulah penawar bisanya,
Seandainya Isteri tulang yang bengkok,
ber-hati2lah meluruskannya ...

Pernikahan ataupun perkawinan,
Menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa ...
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Muhammad Rasulullah atau Isa As,
Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamaullahhuwajah,
Cuma suami akhir zaman, yang berusaha menjadi soleh ...
Amiiin ...


Untuk Calon Istri


Pernikahan atau perkawinan,

Membuka tabir rahasia,
Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah semulia Muhammad,
Tidaklah setaqwa Ibrahim,
Pun tidak setabah Isa atau Ayub,
Atau pun segagah Musa,
Apalagi setampan Yusuf
Justru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Membangun keturunan yang soleh ...

Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,
Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
Suami adalah Nahkoda kapal, Kamu navigatornya,
Suami bagaikan balita yang nakal, Kamulah penuntun kenakalannya,
Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singasananya,
Seketika Suami menjadi bisa, Kamulah penawar obatnya,
Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya

Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa,
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justru Kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Khadijah, yang begitu sempurna di dalam menjaga
Pun bukanlah Hajar ataupun Mariam, yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir zaman, yang berusaha menjadi solehah ...
Amiiin ...

Sepatah dua Pernikahan

Tulisan ini saya dapat saat acara kajian tentang pernikahan di PKS Expo, tahun 2005 kalo nggak salah, bagus nasihat-nasihatnya untuk calon pasutri baru ..

SEPATAH DUA PERNIKAHAN
1. KETIKA AKAN MENIKAH
Janganlah mencari isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita.
Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi anak-anak kita.
2. KETIKA MELAMAR
Anda bukan sedang meminta kepada orang tua/wali si gadis,
tetapi meminta kepada Allah melalui orang tua/wali si gadis.
3. KETIKA AKAD NIKAH
Anda berdua bukan menikah di hadapan penghulu,
tetapi menikah di hadapan Allah.
4. KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN
Catat dan hitung semua tamu yang datang untuk mendoa'kan anda,
karena anda harus berfikir untuk mengundang mereka semua
dan meminta maaf apabila anda berfikir untuk BERCERAI
karena menyia-nyiakan do'a mereka.
5. SEJAK MALAM PERTAMA
Bersyukur dan bersabarlah.
Anda adalah sepasang anak manusia dan bukan sepasang malaikat.
6. SELAMA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA
Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga,
tapi juga semak belukar yang penuh onak dan duri.
7. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG
Jangan saling berlepas tangan,
tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.
8. KETIKA BELUM MEMILIKI ANAK.
Cintailah isteri atau suami anda 100%.
9. KETIKA TELAH MEMIKI ANAK.
Jangan bagi cinta anda kepada (suami) isteri dan anak anda,
tetapi cintailah isteri atau suami anda 100%
dan cintai anak-anak anda masing-masing 100%.
10. KETIKA EKONOMI KELUARGA BELUM MEMBAIK.
Yakinlah bahwa pintu rizki akan terbuka lebar berbanding lurus
dengan tingkat ketaatan suami dan isteri.
11. KETIKA EKONOMI MEMBAIK
Jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang setia
mendampingi kita semasa menderita.
12. KETIKA ANDA ADALAH SUAMI
Boleh bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit
secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan Anda.
13. KETIKA ANDA ADALAH ISTERI
Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut,
tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.
14. KETIKA MENDIDIK ANAK
Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik
adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak,
karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak.
15. KETIKA ANAK BERMASALAH
Yakinilah bahwa tidak ada seorang anak pun
yang tidak mau bekerjasama dengan orang tua,
yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.
16. KETIKA ADA PIL
Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.
17. KETIKA ADA WIL
Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.
18. KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA
Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam
proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia.
19. KETIKA INGIN LANGGENG DAN HARMONIS
Gunakanlah formula 7 K, yaitu:
· Ketaqwaan
· Kasih sayang
· Kesetiaan
· Komunikasi dialogis
· Keterbukaan
· Kejujuran
· Kesabaran
Semoga bermanfaat…

PASCA NIKAH

Sepasang suami istri dalam pandangan islam laksana pakaian yang saling menutupi, melengkapi, dan menghias.

Hak Istri atas Suami

  1. Membayar maharnya secara sempurna

Allah berfirman : “Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita yang kamu nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya” (QS. 4:4);

  1. Memberi nafkah keluarga

Nafkah ini meliputi makanan, pakaian, pengobatan, tempat tinggal dan lain sebagainya. Rasulullah bersabda, “Takutlah pada Allah dalam (memperlakukan) wanita karena kamu mengambil mereka dengan amanat Allah dan kamu halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Dan kewajiban kamu adalah memberi nafkah dan pakaian.” (HR. Muslim);

  1. Memperlakukan dengan baik;

Di antara perlakuan yang baik ini adalah:

    1. Melapangkan nafkah
    2. Meminta pendapatnya dalam urusan rumah tangga dan pelamaran anak perempuannya
    3. Memperlakukannya dengan mesra dan lemah lembut serta memberikan kesempatan kepadanya untuk bercerita dan senda gurau, dalam koridor syari’i
    4. Memaklumi kekurangannya terutama jika ia memiliki kelebihan dan kebaikan lain
    5. Menjaga performance atau penampilan baik di hadapannya
    6. Membantu istri dalam tugas-tugas rumah terutama pada waktu yang singkat
    7. Melindungi dari api neraka

Hak Suami atas Istri

  1. Istri mentaatinya dengan baik

“Apabila wanita melaksanakan sholat 5 waktu, puasa 1 bulan, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia layak masuk surga.” (HR. Imam Ahmad dan lainnya)

  1. Istri menjaga kehormatan dan hartanya
  2. Istri menjaga kemuliaan dan perasaannya
  3. Istri melaksanakan hak suami, mengatur rumah tangga dan mendidik anak
  4. Berbuat baik kepada keluarga suami

Hak-hak bersama Suami Istri

  1. Kerjasama dalam mentaati Allah dan taqwa kepadaNya
  2. Merasakan tanggung jawab bersama dan mendidik anak
  3. Saling menjaga rahasia
  4. Bersikap ikhlas, setia, kasih sayang dan ramah (QS. 30:21)

Rabbana hablana min ajwazina wa dzurriyatina qurata'ayun waj'alna lilmutaqina imama.

"ya Allah ya Rabbi, karuniakanlah kami jodoh dan keturunan soleh yang bisa menjadi penyejuk hati dan jadikanlah/ angkatlah untuk memimpin orang-orang yang bertakwa. "

PRA NIKAH


Meniti Pernikahan

Menikah merupakan solusi terbaik bagi fitrah kemanusiaan yang dikaruniakan kepada umat islam. Dalam meniti pernikahan yang islami tentunya diperlukan persiapan-persiapan baik itu sebelum menikah juga ketika menjalani pernikahan itu sendiri.

Beberapa hal yang harus dimiliki seseorang ketika ingin memasuki gerbang pernikahan antara lain :

  • Kesiapan pemikiran
  • Kesiapan psikologi
  • Kesiapan fisik
  • Kesiapan financial

Proses saling mengenal (Ta’aruf)

  1. Menjaga pandangan mata dan hati dari hal-hal yang diharamkan (QS. 24:30-31)
  2. Materi pembicaraan tidak mengandung dosa dan tidak bermuatan birahi (QS. 4:114);
  3. Menghindari khalwat (berduaan)

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita di tempat yang sunyi, sesungguhnya syeitan akan menjadi orang ketiganya” (HR. Ahmad);

  1. Menghindari persentuhan fisik, sabda Rasul SAW: “Sesungguhnya aku tidak pernah bersalaman dengan wanita (bukan muhrim)” (HR. Bukhari);
  2. Menjaga aurat masing-masing sesuai aturan syar’i atau Islam.

Kriteria calon suami yang ideal

Beberapa kriteria calon suami:

  1. Pria yang sholeh
  2. Pria yang sehat jasmani dan rohaninya
  3. Pria yang sanggup membiayai keluarganya
  4. Pria yang siap memimpin keluarga
  5. Pria yang kufu (sepadan), (QS. 2:221)
  6. Pria yang bernasab baik-baik
  7. Pria yang bukan muhrimnya (QS. An Nisaa:22 23)
  8. Pria yang mencintai dan dicintai

Kriteria istri yang sholehah

  1. Senantiasa menaati Allah SWT dengan melaksanakan kewajibannya;
  2. Menaati suaminya, kecuali dalam kemaksiatan kepada Allah, serta menunaikan hak-hak suami secara penuh;
  3. Menjaga diri dan kehormatannya ketika ditinggal pergi oleh suami, juga menjaga anak-anak, rumah, dan harta suami;
  4. Memberikan pelayanan kepada suaminya;
  5. Menjaga rahasia suami;
  6. Menampakkan diri kepada suaminya dalam keadaan yang sebaik mungkin;
  7. Tidak mengizinkan seseorang masuk kecuali dengan izinnya;
  8. Tidak meminta cerai tanpa alasan;
  9. Berterima kasih kepada suami terhadap kebaikan-kebaikan yang diberikannya;
  10. Tidak menampakkan aurat kecuali kepada suaminya;
  11. Berupaya mencari keridhoan suami dalam segala hal yang memungkinkan.

Khitbah (Meminang)

Khitbah adalah permintaan seorang laki-laki untuk menikahi seorang wanita tertentu dengan cara memberi tahu wanita tersebut atau walinya secara langsung atau melalui keluarganya.

Akad nikah

Akad nikah adalah ikrar dari seorang laki-laki untuk mengikrarkan janji dengan seorang wanita lewat perantara wali, dengan tujuan hidup bersama sebagai suami istri membangun mahligai rumah tangga, keluarga sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW, untuk mendapat ketenangan jiwa, menyalurkan syahwat dengan cara halal dan melahirkan keturunan yang sah dan shalih.

Walimah (pesta pernikahan)

Walimah adalah pesta pernikahan yang disunnahkan, sebagai pemberitaan kepada khalayak dan ungkapan syukur atas terjadinya pernikahan.

Sebagaimana hadits nabi Saw, “Adakanlah walimah sekalipun hanya dengan seekor kambing” (HR. Bukhari Muslim).

Walimah harus menampakkan syiar Islam, sehingga ada nilai ibadah dan dakwah.

Menuju keharmonisan keluarga

Untuk menuju keharmonisan keluarga diperlukan kesadaran akan hak dan kewajiban suami istri. Sebagaimana Allah telah berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadaNya, dan dijadikanNya di antaramu rasa cinta kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir’ " (QS. Ar Rum:21)


Rabbana hablana min ajwazina wa dzurriyatina qurata'ayun waj'alna lilmutaqina imama.

"ya Allah ya Rabbi, karuniakanlah kami jodoh dan keturunan soleh yang bisa menjadi penyejuk hati dan jadikanlah/ angkatlah untuk memimpin orang-orang yang bertakwa. "

Dasar Pemikiran Nikah

Dasar Pemikiran Nikah
(Dari Al Qur'an dan Al Hadits)

"Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor" (Qs. Al Israa' : 32).

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mencukupkan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).

"Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).

¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui¡¨ (Qs. Yaa Siin (36) : 36).

Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).

Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).

Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. (Qs. An Nisaa (4) : 1).

Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).

..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa' (4) : 3).

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).

Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).

Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah (HR. Tirmidzi).

Dari Aisyah, "Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud). 14. Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya." (HR. Baihaqi).

Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).

"Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) :
a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah.
b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya.
c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram."

"Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).

Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud).

Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).

Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).

Rasulullah SAW. bersabda : "Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari).

Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani).

Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat. (HR. Ibnu Majah,dhaif).

Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).


Sumber : Proposal menikah (www.dudung.net)