/* Template shelterhati.blogspot.com */ :: Shelter hati ::: TA’ARUF (Gali Informasi Secukupnya)

:: Shelter hati ::

( sejenak menyandarkan hati )

Thursday, May 29, 2008

TA’ARUF (Gali Informasi Secukupnya)


* Masalah normatif memang klise, tapi penting. Mengabaikan hal yang satu ini samalah artinya dengan tidak peduli pada jalan pikiran seseorang, cara pandangnya terhadap satu masalah dan lebih jauh lagi adalah masalah konsep hidupnya.

Sangat baik bila sebelum menikah, kita sudah memiliki gambaran akan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut :

- apa tujuan menikah ?

- kriteria istri/suami idaman ?

- bagaimana cara membina hubungan suami istri yang harmonis ?

- apa jurus jitu dalam menghadapi problematika rumah tangga ?

- bagaimana pandangannya tentang konsep ‘qowwam’ ?

- bagaimana bila realitas tak seindah harapan ?

Itu baru yang bersifat umum. Tak ada salahnya jika kita ingin mengetahui lebih jauh tentang :

- pandangannya terhadap istri yang sibuk di luar dalam rangka dakwah atau aktualisasi diri.

- juga masalah kemandirian rumah tangga pasca menikah; tinggal dengan orangtua atau akan segera ‘misah’ ?

- bantuan dalam menangani urusan rumah tangga ?

- pendidikan anak?

- sosialisasi dengan keluarga dua belah pihak?

* Masalah ekonomi sering disinyalir sebagai penyebab retaknya biduk rumah tangga. Sebagai penjajakan, lihat bagaimana :

- bentuk ikhtiar yang telah dilakukan dalam rangka mengumpulkan rezeki Alloh

- bagaimana ‘proyeksi’ ke depan

- juga kiat dalam menghadapi masa-masa sulit yang bisa saja terjadi dalam perjalanan hidup ?

* Tak kalah perlunya adalah penjajakan tentang konsep diri si calon :

- bagaimana ia mendeskripsikan dirinya ?

- upaya untuk mengenali kelemahan dan potensi diri ?

- upaya untuk meraih predikat ‘insan kamil’ ?

- cara pandang lingkungan dan pengaruhnya pada diri ?

- bagaimana ia memandang masa depan ?

- obsesinya terhadap kehidupan ?

- dan, last but not least, kepedulian terhadap dakwah !

* Jangan pula sepelekan masalah ‘kecil’ yang sering menjadi pengganjal dalam interaksi suami-istri kelak, semisal :

- watak dasar

- kebiasaan sehari-hari

- hal-hal yang disukai dan tidak disukai

- kedekatan dengan seseorang

- kondisi keluarga dan huibungannya dengan keluarga selama ini ?



* Pentingkah masa lalu ?

Memilih bersikap "yang baik biarlah menjadi tabungan pahalanya dan yang buruk biarlah menjadi rahasianya dengan Alloh", adalah sikap bijaksana! Kecuali bila ada hal-hal yang sangat perlu untuk diceritakan.

* Perhatian pada masalah di atas jangan sampai membuat kita terlena untuk mengetahui :

- kapan target menikah

- dan apa yang sudah dipersiapkan (lebih pada materi) untuk menghadapi saat ‘istimewa’ tersebut ? (ingat, perempuan memiliki hak untuk minta mahar)

Poin-poin di atas adalah hal yang sebaiknya diketahui. Dan ingat dalam prakteknya tidak harus dituangkan secara vulgar dan langsung. Bisa kan memakai cara halus dengan mencari tahu via perantara, sahabat, keluarga, atau pihak lain yang amanah.

Selamat ber ta’aruf !

(Referensi : Majalah Paras)

Sumber lain mengatakan pula, kenali dulu calon suami dalam hal :

- umpan balik komitmen serta tujuan pernikahan

- pengenalan diri masing-masing mulai dari kelebihan, kekurangan, kebiasaan, sampai visi hidup

- mengenal keluarga : orangtua dan saudara

- wawasan pengasuhan anak

- perilaku seks

- visi dalam mengelola rumah tangga dan keuangan

Semoga bermanfaat

0 Comments:

Post a Comment

<< Home