/* Template shelterhati.blogspot.com */ :: Shelter hati ::: September 2008

:: Shelter hati ::

( sejenak menyandarkan hati )

Saturday, September 20, 2008

Doa yang kupanjatkan


Doa yang kupanjatkan ketika aku masih gadis
"Ya Allah beri aku calon suami yang baik, yang sholeh. Beri aku suami yang dapat kujadikan imam dalam keluargaku."

Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah
"Ya Allah beri aku anak yang sholeh dan sholehah, agar mereka dapat mendoakanku ketika nanti aku mati dan menjadi salah satu amalanku yang tidak pernah putus."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku lahir
"Ya Allah beri aku kesempatan menyekolahkan mereka di sekolah Islami yang baik meskipun mahal, beri aku rizki untuk itu ya Allah...."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah mulai sekolah
"Ya Allah..... jadikan dia murid yang baik sehingga dia dapat bermoral Islami, agar dia bisa khatam Al Quran pada usia muda."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah beranjak remaja
"Ya Allah jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yang mengkhawatirkanku. Ya Allah aku tidak ingin ia mengumbar auratnya, karena dia ibarat buah yang sedang ranum."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku menjadi dewasa
"Ya Allah entengkan jodohnya, berilah jodoh yang sholeh pada mereka,
yang bibit, bebet, bobotnya baik dan sesuai setara dengan keluarga kami."

Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah
"Ya Allah jangan kau putuskan tali ibu & anak ini, aku takut kehilangan perhatiannya dan takut kehilangan dia karena dia akan ikut suaminya."

Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan melahirkan
"Ya Allah mudah-mudahan cucuku lahir dengan selamat.
Aku inginkan nama pemberianku pada cucuku, karena aku ingin memanjangkan teritoria wibawaku sebagi ibu dari ibunya cucuku."

Ketika kupanjatkan doa-doa itu, aku membayangkan Allah tersenyum dan berkata..... .

"Engkau ingin suami yang baik dan sholeh
sudahkah engkau sendiri baik dan sholehah?
Engkau ingin suamimu jadi imam,
akankah engkau jadi makmum yang baik?"

"Engkau ingin anak yang sholehah,
sudahkah itu ada padamu dan pada suamimu.
Jangan egois begitu......
masak engkau ingin anak yang sholehah
hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu. ...
tentu mereka menjadi sholehah utama karena-Ku,
karena aturan yang mereka ikuti haruslah aturan-Ku."

"Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah Islam,
karena apa?...... prestige? ...... atau....engkau tidak mau direpotkan dengan mendidik Islam padanya?
Engkau juga harus belajar, Engkau juga harus bermoral Islami,
Engkau juga harus membaca Al Quran dan berusaha mengkhatamkannya. "

"Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanya
dengan mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup aurat?
Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan
umat-Ku."

"Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon menantumu,
seolah engkau tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam Al Quran-Ku.
Percayalah kalau anakmu dari bibit, bebet, bobot yang baik maka yang sepadanlah yang dia akan dapatkan."

"Engkau hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anakmu.
Aku yang memiliki dia saja, Aku bebaskan dia dengan kehendaknya.
Aku tetap mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku, bahkan ketika dia melupakan-Ku. Aku tetap mencintainya. "

"Anakmu adalah amanahmu, cucumu adalah amanah dari anakmu,
berilah kebebasan untuk melepaskan busur anak panahnya sendiri yang menjadi amanahnya."


Lantas...... aku malu...... dengan imajinasiku sendiri....
aku malu......aku malu akan tuntutanku.. .....

Maafkan aku ya Allah......
lantas aku malu dengan imajinasiku sendiri.



(Ratih Sanggarwati)

*Hikss

Jodoh, tanggung jawab siapa ?

Betapa banyak lajang yang merasa sendirian saat mencari pasangan hidupnya. Apa benar memang harus ia sendirian yang bertanggung jawab mencari jodoh untuk dirinya sendiri? Tidakkah ada pihak lain yang ikut bertanggung jawab?

PERAN ORANGTUA
===============
Terkait dengan soal jodoh, yang pertama harus dipahami adalah jodoh, sebagaimana rezeki dan maut, adalah wewenang Allah. Tiada kuasa kita untuk menentukan hal ini. Tapi tentu saja harus ada usaha manusia untuk mendapatkan hal tersebut.
Dalam hal tanggung jawab, tuntutan untuk menikah itu adalah tanggung jawab masing-masing pribadi. Tapi upaya untuk menikah itu tanggung jaawb bersama.
Orang tua bukan hanya berkewajiban memberikan nama baik untuk anak-anaknya, tapi juga bagaimana mengajarkan adab atau perilaku yang baik. Juga kewajiban menikahkan anak itu sehingga dia memiliki satu keluarga. Mengenai bentuk upaya, tentu berbeda-beda orang tua satu dengan yang lain.
Mengikuti perkembangan zaman dan pemikiran, kebanyakan orangtua akhirnya menyerahkan pencarian jodoh ini pada anak-anaknya. Namun, di sini bukan berarti orang tua lepas tanggung jawab sama sekali. Dalam hal ini, orang tua tetap punya kewajiban melihat bagaimana akhlak calon yang diajukan si anak terutama masalah akidah.

PERAN ORANG SEKITAR
===================
Selain orang tua, guru ngaji pada siapa si lajang menimba ilmu agama juga berperan dalam mencarikan jodoh buat si lajang walau sebatas kemampuan yang dimilikinya.
Masyarakat pun sebenarnya bertanggungjawab juga dalam mencarikan jodoh buat para lajang. Tentu usaha ini harus dilakukan dengan cara-cara yang baik dan tak terkesan mencampuri urusan orang lain.

Keputusan akhir
============
Setelah semua usaha yang dilakukan oleh orang-orang di sekeliling si lajang untuk mencarikan jodoh, keputusan akhir kini berpulang kepada si lajang lagi. Upaya itu memang upaya bersama, tetapi kalau keputusan tetaplah keputusan masing-masing pribadi.

Perang orangtua, guru ngaji, dan yang lainnya adalah perantara saja. Tidak mutlak harus jadi karena yang berperan kemudian adalah takdir Allah.

Tapi sebagai catatan penting, para lajang harus meningkatkan keberanian untuk menikah. Kesiapan sempurna itu tidak ada, tetap harus didorong dengan keberanian.
Pun dalam soal menetapkan kriteria calon pendamping hidup, ada perbedaan antara keinginan seseorang untuk mencari istri/suami dan mencari ibu/ayah bagi anak-anaknya. Orang-orang yang mencari istri atau suami baginya biasanya lebih sulit menemukan jodoh dibandingkan dengan mereka yang berpikir mencari ibu atau ayah bagi anak-anaknya. Sebab, untuk mencari suami/istri lebih banyak sisi subjektif ketimbang objektifnya. Sementara saat kita berpikir mencari ibu/ayah bagi anak-anak, visinya lain lagi. Ada baiknya, setiap lajang terus memperbaiki diri dan niat, untuk memudahkan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya menemukan jodoh untuknya.

Sumber : Majalah Ummi No.12/XVII April 2006