/* Template shelterhati.blogspot.com */ :: Shelter hati ::: Jodoh, tanggung jawab siapa ?

:: Shelter hati ::

( sejenak menyandarkan hati )

Saturday, September 20, 2008

Jodoh, tanggung jawab siapa ?

Betapa banyak lajang yang merasa sendirian saat mencari pasangan hidupnya. Apa benar memang harus ia sendirian yang bertanggung jawab mencari jodoh untuk dirinya sendiri? Tidakkah ada pihak lain yang ikut bertanggung jawab?

PERAN ORANGTUA
===============
Terkait dengan soal jodoh, yang pertama harus dipahami adalah jodoh, sebagaimana rezeki dan maut, adalah wewenang Allah. Tiada kuasa kita untuk menentukan hal ini. Tapi tentu saja harus ada usaha manusia untuk mendapatkan hal tersebut.
Dalam hal tanggung jawab, tuntutan untuk menikah itu adalah tanggung jawab masing-masing pribadi. Tapi upaya untuk menikah itu tanggung jaawb bersama.
Orang tua bukan hanya berkewajiban memberikan nama baik untuk anak-anaknya, tapi juga bagaimana mengajarkan adab atau perilaku yang baik. Juga kewajiban menikahkan anak itu sehingga dia memiliki satu keluarga. Mengenai bentuk upaya, tentu berbeda-beda orang tua satu dengan yang lain.
Mengikuti perkembangan zaman dan pemikiran, kebanyakan orangtua akhirnya menyerahkan pencarian jodoh ini pada anak-anaknya. Namun, di sini bukan berarti orang tua lepas tanggung jawab sama sekali. Dalam hal ini, orang tua tetap punya kewajiban melihat bagaimana akhlak calon yang diajukan si anak terutama masalah akidah.

PERAN ORANG SEKITAR
===================
Selain orang tua, guru ngaji pada siapa si lajang menimba ilmu agama juga berperan dalam mencarikan jodoh buat si lajang walau sebatas kemampuan yang dimilikinya.
Masyarakat pun sebenarnya bertanggungjawab juga dalam mencarikan jodoh buat para lajang. Tentu usaha ini harus dilakukan dengan cara-cara yang baik dan tak terkesan mencampuri urusan orang lain.

Keputusan akhir
============
Setelah semua usaha yang dilakukan oleh orang-orang di sekeliling si lajang untuk mencarikan jodoh, keputusan akhir kini berpulang kepada si lajang lagi. Upaya itu memang upaya bersama, tetapi kalau keputusan tetaplah keputusan masing-masing pribadi.

Perang orangtua, guru ngaji, dan yang lainnya adalah perantara saja. Tidak mutlak harus jadi karena yang berperan kemudian adalah takdir Allah.

Tapi sebagai catatan penting, para lajang harus meningkatkan keberanian untuk menikah. Kesiapan sempurna itu tidak ada, tetap harus didorong dengan keberanian.
Pun dalam soal menetapkan kriteria calon pendamping hidup, ada perbedaan antara keinginan seseorang untuk mencari istri/suami dan mencari ibu/ayah bagi anak-anaknya. Orang-orang yang mencari istri atau suami baginya biasanya lebih sulit menemukan jodoh dibandingkan dengan mereka yang berpikir mencari ibu atau ayah bagi anak-anaknya. Sebab, untuk mencari suami/istri lebih banyak sisi subjektif ketimbang objektifnya. Sementara saat kita berpikir mencari ibu/ayah bagi anak-anak, visinya lain lagi. Ada baiknya, setiap lajang terus memperbaiki diri dan niat, untuk memudahkan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya menemukan jodoh untuknya.

Sumber : Majalah Ummi No.12/XVII April 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home